Saatnya, Desa Wisata Munculkan Nilai Keunikan Baru di Tengah Pandemi

85
Plt. Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Dr.Suci Iriani Sinuraya, M.Si.,M.M. dalam diskusi daring STRATEGI DESA WISATA MENYAMBUT PRANATAN ANYAR PLESIRAN JOGJA

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) menyelenggarakan diskusi daring dengan tema Strategi Desa Wisata Menyambut Pranatan Anyar Plesiran Jogja pada Sabtu, 6 Maret 2021. Diskusi daring ini diselenggarakan melalui platform aplikasi Zoom dan dihadiri secara virtual oleh peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari Malaysia.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dr. Suci Iriani Sinuraya, M.Si., M.M., memaparkan bahwasannya desa-desa wisata di Kabupaten Sleman pada masa pandemi covid-19 mengalami penurunan kunjungan yang cukup signifikan. Pada 2019 kunjungan desa wisata mencapai 275.700 kunjungan, sedangkan kunjungan pada 2020 mencapai 95.519 kenjungan. Melihat realita tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bekerja sama dengan berbagai stakeholder mendorong desa-desa wisata untuk melakukan berbagai langkah seperti mencari keunikan yang dimiliki (Unique Selling Point), peningkatan kualitas SDM dan sarana prasarana, beradaptasi dengan tren wisata terbaru dari mass tourism beralih ke quality tourism, branding dan langkah-langkah lainnya. Suci berharap langkah-langkah tersebut mampu berhasil dan bertahan di tengah pandemi covid-19.

Hadir pula sebagai narasumber dalam diskusi daring ini yakni Eka Priastana Putra dari Kampoeng Sedjarah Kelor Turi dan Esthy Handayani dari Desa Wisata Grogol Seyegan yang memaparkan pengalaman pengelolaan desa wisata sebelum dan selama pandemi covid-19. Selama pandemi, baik Kampoeng Sedjarah Kelor maupun Desa Wisata Grogol, keduanya sama-sama mengalami pukulan dan penurunan, mulai dari kunjungan hingga pendapatan. Bahkan untuk Kampoeng Sedjarah Kelor pukulan tersebut dialami sejak tragedi susur sungai yang menimpa siswa-siswi SMPN 1 Turi pada 21 Februari 2020 lalu.

Kedua Desa Wisata yang turut menjadi narasumber dalam diskusi daring ini tidak menyerah dengan pandemi yang masih melanda. Baik Kampoeng Sedjarah Kelor maupun Desa Wisata Grogol sama-sama menawarkan berbagai produk yang siap memanjakan para wisatawan. Seperti Kampoeng Sedjarah Kelor yang menawarkan Stanplat Pit yang siap memanjakan para goweser dengan aneka kuliner berbahan dasar daun kelor dan salak seperti stick kelor, bakso goreng kelor, mie kelor, jenang salak dan geplak salak. Tak ketinggalan pula Desa Wisata Grogol yang selama pandemi ini menawarkan aneka paket wisata berbasis budaya. Desa Wisata Grogol juga telah tersertifikasi CHSE (Clean, Healty, Safety, Environment) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Acara diskusi daring ini diawali oleh sambutan dari Bupati Sleman, Dra.Hj. Kustini Sri Purnomo. Dalam sambutannya, Pemerintah Kabupaten Sleman tengah berfokus mengembalikan kepercayaan publik jika pariwisata di Kabupaten Sleman aman dan terhindar dari covid-19 dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Pemerintah Kabupaten Sleman beberapa waktu yang lalu juga menerapkan uji coba operasional secara terbatas pada destinasi wisata yang mampu memberikan stimulan pergerakan sektor ekonomi riil di daerah. Kuliner, fotografi, fashion dan periklanan adalah sub sektor ekonomi kreatif yang cukup menggeliat selama masa uji coba operasional. Pada akhirnya, Bupati Sleman mengajak segenap pihak untuk bekerja sama membangkitkan kembali pariwisata di Kabupaten Sleman, sehingga perekonomian masyarakat pulih kembali.

Bagikan Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ubai
1 month ago

Semoga wisata di daerah Sleman bisa berkembang kembali, amin.