Data Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mencatat 502.267 pergerakan wisatawan di Kabupaten Sleman selama periode libur lebaran tahun 2026. Data ini menunjukkan penurunan sebesar 9,57% jika dibandingkan dengan pergerakan wisatawan pada periode libur lebaran 2025 sebesar 556.033. Wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Sleman didominasi oleh wisatawan nusantara sebanyak 99,22%, dan sisanya merupakan wisatawan mancanegara (0,78%). Dilihat dari asalnya, wisatawan nusantara didominasi oleh wisatawan dari Pulau Jawa dengan proporsi sebagai berikut :Jawa Tengah & DIY (35,6%), Jawa Timur (32,4%), dan Jabar, DKI Jakarta, & Banten (27,5%). Penurunan kunjungan wisatawan pada tahun ini disebabkan antara lain oleh:
- periode libur lebaran 2025 lebih panjang di akhir bila dibandingkan dengan periode libur lebaran 2026 yang lebih panjang di awal;
- kondisi cuaca yang tidak menentu (panas ekstrim pada beberapa hari menjelang puasa berakhir, dan hujan di siang hari pada H+2 sampai dengan akhir periode libur lebaran);
- kondisi perekonomian yang belum membaik. Hal ini terkonfirmasi oleh fenomena micro-tourism, dimana wisatawan cenderung untuk fokus mengeksplorasi destinasi di sekitar tempat tinggal, baik dalam kota maupun daerah yang mudah dijangkau dalam waktu singkat. Hal ini diperkuat dari komposisi wisatawan nusantara yang berkunjung ke Sleman, dimana 35,6% berasal dari Jawa Tengah dan DIY, disusul 32,4% berasal dari Jawa Timur.
Mengacu pada data terakhir BPD PHRI Daerah Istimewa Yogyakarta, rerata okupansi hotel (baik bintang maupun non bintang) di Sleman pada periode libur lebaran 2026 adalah 70%. Bila dibandingkan dengan periode lebaran 2025 sebesar 80%, hal ini berarti terdapat penurunan 12,5%. Penurunan ini utamanya disebabkan kondisi perekonomian yang belum membaik, yang mengakibatkan banyak pemudik yang memilih tinggal di rumah keluarga atau kerabat dekat daripada di hotel. Selain itu, keberadaan akomodasi tak berizin yang menawarkan harga lebih murah, mengakibatkan banyak wisatawan yang lebih memilih untuk tidak menginap di hotel. Hal ini terkonfirmasi dari turunnya persentase belanja akomodasi menjadi 25,4% pada periode libur lebaran 2026, dibandingkan dengan persentase belanja akomodasi pada tahun 2025 sebesar 29,5%. Hal ini terkonfirmasi dari turunnya retribusi yang diterima di destinasi yang dikelola/dikelola bersama Dinas Pariwisata Sleman sebesar 18,04%.
Bila dibandingkan dengan rerata belanja wisatawan pada periode lebaran 2025, rerata belanja wisatawan mengalami penurunan dari rerata Rp1.000.000 sampai dengan Rp1.200.000 menjadi Rp563.759. Penurunan belanja ini salah satunya dipengaruhi kondisi perekonomian yang belum membaik yang berakibat wisatawan lebih menahan diri untuk membelanjakan uangnya di tempat wisata, dan anomali pengeluaran dimana meskipun volume kendaraan atau orang yang lewat mungkin terlihat banyak, mereka cenderung menjadi “wisatawan pelintas” yang tidak menginap atau membelanjakan banyak uang di destinasi lokal.
Sama halnya dengan fenomena yang terjadi di pusat perbelanjaan beberapa waktu yang lalu, fenomena Rojali (rombongan jarang beli), Rohana (rombongan hanya nanya), Rohali (rombongan hanya lihat-lihat), Romansa (rombongan manis senyum saja), Rotasi (rombongan tanpa transaksi), Rosalie (rombongan suka selfie) terjadi pada periode libur lebaran 2026.
Destinasi yang menjadi favorit kunjungan wisatawan pada libur lebaran kali ini adalah Candi Prambanan sebesar 27,47% diikuti oleh Kawasan Kaliadem 19,48%, Kawasan Kaliurang 15,68%, Jip Merapi 9,48%, dan Ledok Sambi 4,50%. Dinas Pariwisata Sleman terus mencermati fenomena yang terjadi pada periode libur lebaran 2026 dengan seksama. Penguatan promosi secara langsung (direct promotion) ke pasar potensial (Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat) terus dilaksanakan dan mendapat perhatian utama. Pelaksanaan table top/travel dialog ke Jawa Tengah pada bulan Februari 2026 yang lalu dan table top/travel dialog ke Jawa Timur pada minggu ke-2 April 2026 serta keikutsertaan dalam pameran skala nasional di JICC pada 23-26 April 2026 diharapkan bisa mempertahankan capaian pergerakan wisatawan ke Kabupaten Sleman tahun 2025 yang lalu. Selain itu, koordinasi dan kerja sama dengan semua stakeholder pariwisata yang ada terus ditingkatkan dalam kaitannya untuk mengatasi keterbatasan yang ada.

