Sleman – Dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif 17 subsektor Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman (Dispar Sleman) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pendataan Laporan Pendahuluan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Sleman, Selasa (12/05/2026). Kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Dispar Sleman tersebut, dihadiri oleh perwakilan pelaku ekonomi kreatif dari komunitas game developer, gameLan, komunitas asosiasi desain grafis Indonesia , ketua komunitas animasi club, akademisi, 17 kapanewon, dan stakeholder terkait.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Edy Winarya, S.Sn., M.Si. dalam sambutannya menyampaikan harapan bahwa kegiatan ini dapat menjadi dasar kuat bagi penyusunan laporan akhir yang akan menjadi acuan kebijakan pembangunan ekonomi kreatif kedepan.
“Setelah FGD pendataan ini selesai, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi kembali dalam mengidentifikasi permasalahan secara langsung di lapangan, agar dapat tetap terjadi kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan komunitas pelaku (helix model) sehingga menjadi dampak yang positif. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem yang terarah dan berdaya saing tinggi”, ujarnya.
FGD ini merupakan penentukan langkah awal dalam menyusun dokumen laporan pendahuluan pendataan pelaku industri kreatif. Pendataan tahun anggaran 2026 ini adalah pendataan yang ke tiga, setelah sebelumnya dilakukan pada tahun anggaran 2017 dan 2020. Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan kembali potensi industri kreatif serta validasi data pelaku ekraf yang sebelumnya tersedia berdasarkan data dinamis di wilayah Kabupaten Sleman. Nantinya, data dari berbagai subsektor akan dimasukan dalam Aplikasi Satu Data Ekraf (Ekonomi Kreatif) guna mempermudah akses informasi, pemetaan potensi, dan pengambilan keputusan terkait Ekraf. Selain itu, FGD ini juga berperan dalam menginventarisasi kebutuhan para pelaku industri kreatif di Kabupaten Sleman.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, SP., M.Ec.Dev., MIDS., menyampaikan bahwa data yang kuat melahirkan ekosistem yang sehat. Dengan adanya satu data ekraf, dapat mempermudah untuk melakukan pemetaan kegiatan pelatihan, sinergi terhadap pelaku indutri kreatif.
“Pendataan ini krusial. Kita ingin kebijakan yang dilahirkan nanti tepat sasaran. Melalui FGD ini, kita memvalidasi laporan pendahuluan agar data yang dimiliki mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya dalam pengembangan ekosistem,” ujarnya.
Dr. Dumairy M.A selaku narasumber dari peneliti pusat studi ekonomi kerakyatan UGM menjelaskan bahwa dalam pendataan ekonomi kreatif yang perlu diperhatikan adalah data utama dan data pelengkap. Salah satu data utama adalah terkait dengan produk, bagaimana miningkatkan nilai tambah suatu produk yang memmiliki harga jual yang tinggi. Sedangkan data pelengkap memberikan identitas yang jelas meliputi metode pendataan dan validasi data ekonomi kreatif
