Beranda blog Halaman 109

Desa Wisata Pentingsari

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”34″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”20″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” maximum_entity_count=”500″]Desa wisata yang satu ini masih di kabupaten Sleman tepatnya di lereng Gunung Merapi. Desa Wisata Pentingsari berada di Kelurahan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan. Saat Gunung Merapi sedang bergejolak, desa ini mungkin akan masuk dalam zona berbahaya. Namun, dibalik itu, desa ini memiliki suasana pedesaan yang benar-benar menyegarkan

Sama seperti di Tanjung. Masyarakat di Desa Wisata Pentingsari juga berprofesi sebagai petani. Suasana tradisional juga sangat terasa di desa wisata ini. Beberapa objek menarik yang bisa dikunjungi di desa wisata ini antara lain ancuran Suci Sendangsari serta batu luweng yang menjadi bagian dari perjuangan Pangeran Diponegoro dalam upaya mengusir penjajah

Download Price List Desa Wisata Pentingsari

Perpustakaan Sleman Ajak Anak-Anak Bermain Sambil Belajar

Membaca bagi anak-anak dahulu sangat digemari, namun berbeda dengan saat ini anak-anak lebih senang bermain game baik lewat Hp maupun Komputer. Kondisi ini mendorong semua pihak untuk kembali mengajak anak-anak gemar membaca bahkan berupaya membaca menjadi budaya bagi anak-anak. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah merasa prihatin dengan kondisi ini, untuk itu melalui wisata pustaka, menurut AA. Laksmi Dewi (Kepala Dinas) diharapkan tumbuh kembali minat baca bagi anak-anak. Kegiatan ini menurut Ayu merupakan layanan untuk meningkatkan minat baca anak-anak khususnya, kepada murid SD yang jaraknya dengan perpustakaan jauh yakni SD Kanisius Ngembesan Wonokerto Turi. Kegiatan ini juga untuk menarik anak-anak datang ke perpustakaan, karena perpustakaan merupakan jendela pengetahuan yang perlu ditumbuhkan sejak dini untuk memberikan bekal bagi anak-anak agar bisa memilah milih dan mensortir  informasi yang berguna, sehingga secara bijaksana dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.

Anak-anak sebelumnya melihat-lihat buku dan membaca diperpustakaan kemudian diberi dongeng tentang legenda Bandung Bondowoso oleh petugas Perpustakaan Sleman. Selanjutnya diajak langsung ke lapangan dengan mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Sewu sebagai sumber pustaka. Anak-anak SD Kanisius Ngembesan sebelumnya pernah menjadi juara lomba yang diadakan oleh Perpustakaan Sleman, sehingga untuk memberikan penghargaan bagi mereka diajak untuk kegiatan wisata Pustaka. Kegiatan ini dilaksanakan Kamis, 9 Februari 2017 diikuti oleh 45 anak SD Kanisius Ngembesan didampingi oleh 4 guru pendamping. Anak-anak tampak senang ketika sampai lokasi Candi Prambanan dan dengan antusias melihat-lihat Candi. Anak anak juga diajak berkeliling Candi dengan kereta selanjutnya menuju Candi Sewu serta melihat audio Visual tentang Candi.

Oleh para guru anak-anak juga diberi tugas untuk menulis tentang kegiatan yang dilakukan sehingga menumbuhkan rasa tanggungjawab bukan sekedar bermain dan berkeliling candi namun bisa menjadi pengalaman yang berharga untuk memahami dan mengerti salah  satu peninggalan sejarah budaya bangsa Indonesia.

Asyiknya Menikmati Matahari Terbit di Lereng Gunung Merapi

SLEMAN – Bunyi Adzan Subuh baru terdengar dari beberapa masjid dan mushola di Desa Ledok Sambi, Pakem Sleman. Suasana masih cukup gelap, namun mobil jeep yang dikelola oleh warga pelaku wisata di lereng Gunung Merapi sudah melaju menembus kegelapan.
 
Empat orang penumpang menahan dingin dari hembusan angin yang menerpa tubuh karena laju kendaraan. Mobil offroad melaju cukup kencang melibas aspal di Jalan Kaliurang hingga berbelok di arah Sabo Dam Kali Kuning menuju kawasan Bungker Kaliadem melalui Desa Kepuhharjo. Jalan aspal yang dilewati memudahkan pengemudi jeep bernama Nugroho untuk mempercepat laju kendaraannya.

Selengkapnya: http://lifestyle.sindonews.com/read/1194938/156/asyiknya-menikmati-matahari-terbit-di-lereng-gunung-merapi-1491491613

Kampung Flory, Homestay Desa Wisata Tanaman Hias dengan Kolam Terapi Ikan

SLEMAN, KRJOGJA.COM – Semakin banyak Desa Wisata dengan homestay warga yang layak dikunjungi di daerah Sleman, Yogyakarta. Atraksi wisata yang beragam dan unik dijadikan daya tarik bagi desa wisata yang baru. Seperti Desa Wisata Kampung Flory ini. 

Kampung Flory yang terletak di Dusun Jugang, Pangukan, Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengandalkan budi daya sektor pertanian, perikanan dan perkebunan.  Salah satu keunikannya, di tempat ini pengunjung bisa melakukan terapi ikan. 

Selengkapnya : http://krjogja.com/web/news/read/28805

Pawai Budaya dan Gelar Seni Ogoh-Ogoh 2017

Dalam rangka menyemarakkan Hari Nyepi 2017, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama Panitia Nyepi Daerah Istimewa Yogyakarta dan PHDI DIY, mengadakan Pawai Budaya dan Gelar Seni Ogoh-Ogoh pada Sabtu, 25 Maret 2017 dengan rute kirab dari Monumen Jogja Kembali sampai dengan perempatan jalan jembatan baru Sardjito.

Pawai Budaya dan Gelar Seni Ogoh-Ogoh yang mengusung tema “Membangun Keharmonian dalam Kebhinekaan” diawali oleh atraksi marching band dari Akademi Maritim Yogyakarta dan diikuti oleh rombongan ogoh-ogoh dari beberapa kecamatan di Kabupaten Sleman. Selanjutnya di perempatan jalan jembatan baru Sardjito, peserta diberi kesempatan untuk menampilkan atraksi terkait ogoh-ogoh yang dibawanya.

Hujan yang turun saat pelaksanaan, tidak menyurutkan niat warga masyarakat yang memenuhi ruas jalan yang dilewati oleh peserta kirab budaya ini. Pawai budaya ini berakhir pada pukul 15.30, dimana selanjutnya para peserta gelar seni ogoh-ogoh ini bergabung dengan peserta lain di depan gedung DPRD di Malioboro.

Mina Padi Sleman Dicontoh 15 Negara

Jumat,20 Januari lalu, Perwakilan FAO mengunjungi sawah percontohan Mina Padi Kelompok Tani Mina Murakabi di Dusun Cibluk, Margoluwih, Sleman. Pada kesempatan tersebut, perwakilan dari Mentri terkait juga turut hadir dalam kunjungan, termasuk Deputi Menteri Koordinator Kemaritiman Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu dan Teknologi, dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Musdhalifah Machmud, perwakilan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Kementrian Pertanian serta perwakilan dari FAO (Food and Agriculture Organization) Mark Smulders beserta Ageng S. Herianto selaku Programme FAO Indonesia. Sejak 2015, FAO sendiri telah bekerja sama dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk mulai menghidupkan kembali kearifan tradisional melalui pertanian yaitu Inovasi Mina Padi seluas 25 hektar pada tiap lokasinya di berbagai wilayah di Indonesia dan Sleman menjadi salah satunya.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sleman sebagai lumbung padi DIY berkewajiban untuk terus mendorong intensifikasi pertanian yang dihadapkan dengan keterbatasan lahan. Namun terlihat dengan metodi Mina Padi, sekalipun lahan terbatas untuk produktifitas dapat meningkat. Mina Padi dapat menjawab tantangan keterbatasan lahan dengan produksi padi di Sleman. Melalui me tode tersebut juga keuntungan yg diraih berlipat ganda tak hanya padi namun juga ikan serta keberlangsungan lahan yang produktif.

Mark Smulders perwakilan dari FAO mengatakan bahwa Mina Padi yang dikenalkan di Indonesia berhasil dengan baik. Khususnya di Sleman yang petaninya sangat antusias dalam penerapan Mina Padi sehingga produksi beras, pertumbuhan ekonomi dan kecukupan gizi dapat terus meningkat. Film Dokumenter tentang Mina Padi yang ada di Sleman telah disebarkan sebagai percontohan di wilayah Asia Pasifik dan tak kurang sudah 15 perwakilan dari Negara lain dan banyak petani dari berbagai penjuru sudah datang mengunjungi Sleman untuk dapat melihat langsung sawah percontohan Mina Padi tersebut. Smulder juga mengatakan bahwa Mina Padi harus diperluas untuk memastikan banyak keluarga petani meraih hidup yang lebih baik yang menguntungkan pedesaan serta Negara. Mark menginginkan generasi muda kembali tertarik dalam bidang pertanian ini seperti yang dilakukan pada kelompok tani Murakabi. Sehingga generasi muda tidak hanya mengandalkan pekerjaan di kota melainkan memajukan desanya dengan terjun dalam bidang pertanian khususnya mina padi yang sangat menjanjikan untuk bisa meningkatkan perekonomian, terlebih bila dikemas menjadi wisata mina padi.

Musdhalifah Machmud mengatakan melalui Mina Padi kita telah berhasil mendapat 3 WIN(keuntungan). Adapun beberapa keuntungan yang didapat oleh petani yaitu naiknya produksi beras, naiknya pendapatan dan membaiknya nutrisi masyarakat. Melalui sawah percontohan Mina Padi tersebut terbukti mampu menaikkan hasil panen padi rata-rata 6,5 juta ton/ha menjadi 9,3 ton/ha. Hal tersebut tentunya secara langsung menambah pendapatan petani serta juga panen ikan yang dihasilkan pada tiap hektar dalam satu musim mampu mencapai 42 juta. Sehingga membantu dalam meningkatkan nutrisi di kalangan masyrakat DIY sesuai data Badan Pusat Statistik 2014 menyebutkan wilayah DIY hanya mengkonsumsi ikan 19,79 kg/kapita/tahun, dimana merupakan provinsi yang terendah dibandingan dengan Provinsi lainnya yang rata-rata mengkonsumsi ikan sebesar 37 kg/kapita. Sehingga melalui Mina Padi tersebut dapat meningkat konsumsi ikan dan tercukupinya nutrisi masyarakat. Disisi lain penerapan inovasi tersebut menggunakan pendekatan ekosistem tanpa menggunakan pestisida serta pupuk kimia sehingga sangat ramah lingkungan dan menjaga keberlangsungan lahan pertanian.

Pulang ke Pedesaan Masa Lalu Khas Jawa di Omah Kecebong, Yogyakarta

SLEMAN, HarianBernas.com-Suasana pedesaan langsung terasa ketika memasuki kawasan Omah Kecebong. Anda akan segera disambut alam hijau pedesaan yang menyejukkan mata. Resort bergaya tradisional Jawa ini terletak di Jl Sendari RT 01/18 Dusun Sendari, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Nuansa pedesaan masa lalu memang menjadi konsep umum yang diusung Omah Kecebong sebagai daya tarik wisatawan yang ingin merasakan kehidupan pedesaan Jawa.

Jika memperhatikan sekitar, kesan hijau yang berasal dari alam yang masih asri pun tampak mengelilingi kawasan Omah Kecebong. Sejumlah bangunan khas Jawa pun tak kalah menarik untuk disinggahi, menambah citra suasana pedesaan yang masih asli. Omah Kecebong seakan menjawab kebutuhan wisatawan saat ini yang sedang tren memilih destinasi wisata yang erat kaitannya dengan alam yang masih asri dan alami sehingga sering memberikan ketenangan atau sejenak bisa melepas penat.

Selengkapnya : http://harianbernas.com/33347-pulang-ke-pedesaan-masa-lalu-khas-jawa-di-omah-kecebong-yogyakarta.html

Tebing Breksi, Bekas Tambang yang Kini Menawan

tirto.id – Pria itu bernama Mujimin. Dengan mengendarai sebuah motor matik, ia mengantar tirto.idmelihat persiapan panggung konser di depan Tebing Breksi, Kamis (8/9/2016). Panggung konser itu, merupakan bagian dari pelaksanaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), sebuah perhelatan seni dan budaya yang rutin digelar setiap tahun oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Spot panggung terbuka itu sekarang jadi panggung masa depan FKY,” kata Mujimin Sekretaris Desa Sambirejo sekaligus Kepala Pokdarwis Tlatar Seneng, di Desa Sambirejo, pekan lalu.

Selengkapnya: http://tirto.id/tebing-breksi-bekas-tambang-yang-kini-menawan-bKqD

TAMAN TEBING BREKSI – DULUNYA TAMBANG BATU, KINI JADI TEMPAT WISATA

Kangenwisata – Jogja memang tak pernah berhenti menciptakan tempat wisata baru, salah satunya yaitu “Taman Tebing Breksi”. Tebing Breksi ini dulunya merupakan tempat penambangan batu alam, tetapi seiring waktu keindahan Tebing Breksi ini mulai tercium mata kamera, yang kemudian menjadikan tempat ini destinasi baru tempat wisata Jogja.

Selengkapnya : http://kangenwisata.id/2016/04/taman-tebing-breksi-yogyakarta.html