Beranda blog

Bupati Lepas Ikan Di Sungai Bedog, Tandai Dibukanya Bedog Art Festival 2026

Mengusung tema “(Nge)rawat Rasa”, bukan sekedar merawat sungai tapi merawat rasa yang tumbuh disekitarnya, Bupati Sleman, Harda Kiswaya,  berkenan hadir di Bedog Artfest #16 2026, Sabtu (3/10) malam di Studio Banjarmili, pada bantaran Sungai Bedog,  Kradenan,  Banyuraden, Gamping, Sleman.  Festival ini merupakan bagian dari rangkaian Sleman Creative Weeks #6 yang diinisiasi oleh  Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bekerjasama dengan pelaku seni dan budaya dan didukung oleh Dana Keistimewaan Yogyakarta..

Pembukaan Bedog Artfest #16 2026, ditandai dengan pelepasan ikan secara simbolis oleh Bupati Sleman ke sungai Bedog sebagai ajakan untuk menjaga kelestarian alam dan ekosistem sungai lewat seni & budaya. Bupati Harda Kiswaya berpesan bahwa melalui Bedog Artfest masyarakat dapat menjaga, merawat kebersamaan, dan linkungan agar ekosistem sungai bedog tetap lestari, bersih dan menjadi ruang hidup yang nyaman bagi generasi mendatang. “Bedog Artfest saya harap semakin  memperkuat ekosistem kreatif yang tumbuh dan berkembang untuk masyarakat’. jelasnya.

Aksi energik penuh totalitas dari penampilan Tari Reog .Manggolo Mudho. menjadi awal pertunjukan seni yang menghibur tamu undangan dari Perangkat Daerah terkait dan  para hadirin dari berbabagai wilayah. Kemeriahan acara dilanjutkan seni pertunjukan Ari Candra, Sirip Kuning Yogyakarta, Prehistoric Body Theater, Pulung x Pulung Dance Studio, ditutup dengan Keroncong Kemulyan.  Tak hanya seni,  Bedog Artfest juga menghadirkan berbagai bazar UMKM lokal, serta pameran pertunjukan seni rupa yang dapat mengispirasi bagi para pengunjung. Rangkaian acara Bedog Artfest akan dengan menghadirkan berbagai seni pertunjukan, pemutaran film documenter dan workshop.

Wakil Bupati Sleman Buka Sleman Creative Weeks #6 2026: “Kolaburasi Lintas Sektor Jadi Bukti Ruang Kreatif”

Sleman – Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa resmi membuka Sleman Creative Weeks (SCW) #6 tahun 2026, Minggu (27/9) di Pondok Pesantren Gus Muwafiq, Sendangrejo, Minggir, Sleman, bertepatan dengan peringatan Hari Pariwisata Sedunia.

Agenda ini dilaksanakan Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Sleman Creative Comunnity di dukung Dana Keistimewaan Yogyakarta. Pembukaan SCW dirangkai dengan diawali kegiatan Sleman Kite Festival.

Prosesi pembukaan SCW ditandai dengan simbolis penerbangan layang-layang secara seremonial oleh Wakil Bupati bersama santri dan pengrajin, komunitas layang-layang di dampingi dari lintas OPD terkait.

Ratusan penerbangan layang-layang di langit Sleman Barat menjadi simbol holopis kuntul baris yang artinya sepasukan burung kuntul yang terbang bersama dalam formasi yang indah dan saling mendukung di angkasa, yang dimaknai sebagai ikhtiar untuk membangun spirit kebersaman dari kota/kabupaten kreatif untuk saling mendukung, saling support, saling berinteraksi dan berkolaburasi.

SCW bukan sekedar festival tahunan, melainkan ruang di mana budaya dihidupkan, kreator dipertemukan, dan pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat, perluasan lapangan kerja, kemitraan dan kemandirian usaha bagi masyarakat luas, serta perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan.

SCW tahun ini mengusung Tema “ Living Shared Culture” Festival menjadi ruang berbagai pengalaman lintas generasi. Pembukaan dalam rangkaian SCW diramaikan dengan kegiatan yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga diantaranya ada:

  1. Pameran UMKM Ramah Lingkungan: Sebanyak 36 tenan UMKM Sleman tampil tanpa penggunaan plastik sekali pakai. Semua produk adalah karya asli Sleman.
  2. Talkshow Desa: Mengusung topik “Ada Apa Dengan Desa? “Membaca Kembali Desa Sebagai Ruang Hidup Budaya dan Kemungkinan”.
  3. Workshop & Hunting Foto
  4. Lomba Melukis Layang-Layang Tradisional: Diikuti 100 peserta dari berbagai daerah dengan total hadiah ratusan juta rupiah.
  5. Pertunjukan Budaya dan Musik: Penampilan Hadroh dari Pondok Pesantren Minggir, Sanggar Seni Kinanthi Sekar, penampilan musik dari Kunto Aji, Iksan Skuter, dan Olski,
  6. Penayangan program pemutaran film dokumenter Harun Namanya, Kiamat Sampah, Bandung 2045, Kentang Tintung Tingtang Tintung.
  7. Dan ditutup dengan atraksi Handling Layangan Terbang Malam.

Selain menikmati hiburan, masyarakat merasa bangga, berdaya, dan punya harapan baru. Kegiatan ini menjadi momentum dampak positif bagi masyarakat dan warga sekitar, tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut dalam berinteraksi secara langsung, menambah pengalaman baru, dan mendapatkan ide untuk membuka peluang usaha.

Rangkaian Festival Lanjutan SCW merupakan festival induk yang berlanjut pada Bedog Art Festival: 2 s.d 10 Oktober di Studio Banjarmili, Festival Pesta Boneka Internasional: 6-11 Oktober di Ruang Pana Kampoeng Media, bersama seniman dari 23 negara, Synergy: Pemutaran film dokumenter kolaborasi pada 27 September, 6 dan 10 Oktober.

Kepala Dinas Pariwisata Edy Winarya menegaskan kunci keberhasilan Pariwisata Sleman ke depan adalah kolaborasi.”SCW kali ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif tidak bisa tumbuh sendirian. Kita butuh sinergi nyata, Inilah wajah baru pariwisata Sleman. Pariwisata kita tidak dibangun oleh satu Dinas, tetapi dibangun oleh satu ekosistem, budaya hidup, kreator tumbuh, dan Sleman Sembada,” pungkasnya.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa memberikan apresiasi setingi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan pembukaan SCW 2026. “Keberhasilan panggung langit Sleman Barat adalah buah dari peran masyarakat, ide dan semangat semua pihak terbang bersama, tidak ada yang terbang sendiri, terutama dari pesantren, kampus, pemerintah dan warga bergerak bersama di langit Sleman barat pun sukses dalam menyelenggarakan panggung kreatif, sehingga semua pihak baik masyarakat dan warga diminta agar untuk saling menjaga ketertiban. “ujarnya.

Informasi lebih lanjut: instagram sleman creative weeks, sleman_kite fest, bedog_art fest, pesta_boneka, kdmcinemaid, kdmcinemaid.

Candi Barong

Sumber Foto: https://travelspromo.com/htm-wisata/candi-barong-sleman/

Secara administratif Candi Barong terletak di Dusun Dawangsari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis, Candi Barong terletak di suatu perbukitan kapur, sawah tadah hujan dan tanah yang relatif kurang subur, dengan ketinggian 199,27 m dpl dan pada koordinat 110° 2’ 343” BT dan 7° 46’ 16” LS.

Penamaan Candi Barong oleh penduduk setempat berkaitan erat dengan adanyabhiasan kala pada masing-masing sisi tubuh candi. Hiasan semacam ini menyerupai gambaran barongan. Adapun literatur tertua yang menyebutkan candi ini adalah ROD 1915, dalam buku tersebut Candi Barong disebut dengan nama Candi Sari Sorogedug.

Candi Barong dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan peninggalan sejarah yang menunjukkan unsur-unsur agama Buddha dan Hindu pada abad IX – X M. di sekitar Candi Barong banyak ditemukan tinggalan budaya material. Budaya material yang ada berupa candi dan bangunan lain, misalnya Candi Miri, Candi Dawangsari. Arca Ganesha, Situs Ratu Boko, dan Arca Dyani Bodhisatwa Sumberwatu.

Dikarenakan sampai saat ini belum dapat ditemukan sumber otentik berupa prasasti yang menyebut sejarah Candi Barong, maka para ahli arkeologi untuk sementara menyatakan Candi Barong didirikan antara abad IX – X M atau akhir masa klasik Jawa Tengah.

Pernyataan yang disampaikan oleh para arkeologi tentang kurun pendirian Candi Barong tersebut didasarkan atas tata letak, langgam, dan ornamen bangunan utama. Tata letak Candi Barong berteras roboh ke belakang membujur arah timur, barat, dan bangunan utamanya berada di bagian paling tinggi. Masa klasik Jawa, pada umumnya mempunyai tata letak memusat, yaitu bangunan utama berada di tengah kompleks. Langgam atau gaya profil bangunan lebih sederhana, sedangkan ornamen yang menghias bangunan tidak rumit. Ornamen yang menonjol adalah hiasan kala yang berada di ambang atas relung bangunan. Model kala ini semacam lazim digunakan dalam candi-candi di Jawa Timur, yang menurut ahli arkeologi lebih muda pertanggalannya dibanding masa klasik Jawa Tengah. Model kala masa klasik Jawa Tengah terlihat dengan gaya “garang dan menyeramkan”, sedangkan masa klasik Jawa Timur ornamen kala tampak seperti “tersenyum”. Para ahli arkeologi berpendapat bahwa pergeseran masa klasik dari Jawa Tengah ke arah timur diperkirakan terjadi pada akhir abad IX – X M.

Kondisi lingkungan di sekitar Candi Barong yang berkapur mengakibatkan tanah di sekitarnya tandus dan kering, di sisi lain masyarakatnya hidup dari mata pencaharian bertani. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk menggunakan sistem tadah hujan guna memenuhi kebutuhan air dalam pertanian. Hal tersebut tentunya terkait dengan kehidupan masyarakat pendukungnya pada waktu itu. Dengan kondisi lingkungan yang tandus, sementara masyarakatnya sangat tergantung pada hasil pertanian sebagai sumber mata pencahariannya, maka mereka memilih Dewa Wisnu dan Dewi Sri sebagai dewa yang dipuja. Dalam mitologi   India, Dewa Wisnu merupakan dewa pemelihara dan penyelamat dunia. Salah satu arca Wisnu yang ditemukan di candi ini duduk dalam sikap paryankasana, sikap tangannya varamudra, yaitu sikap tangan memberi anugerah, sedangkan Dewi Sri merupakan salah satu sakti Dewa Wisnu, yang dianggap sebagai Dewi Padi dalam kehidupan masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini. Dengan demikian, melalui pemujaan Dewa Wisnu dan Dewi Sri diharapkan mendatangkan berkah kesuburan, sehingga dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.

Bangunan inti yang berada di teras I terdiri atas dua buah bangunan candi yang berukuran 8,18 x 8,18 m, tinggi 9,05 m, menghadap ke barat, berjajar dari arah utara (candi I) – selatan (candi II). Kedua candi ini tidak mempunyai bilik, meskipun bangunan tengah candi berongga, hanya mempunyai relung, yang di ambang atasnya berhias kala, di keempat sisi dindingnya. Tidak seperti hiasan kala pada umumnya yang tampak garang dan menyeramkan, hiasan kala di Candi Barong tampak agak tersenyum.

Seperti bangunan candi pada umumnya, Candi Barong juga dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap candi. Pada waktu dilakukan pembongkaran dalam rangka pemugaran, di bawah candi I terdapat 9 kotak bujur sangkar dengan kotak paling besar berada ditengah. Ukuran keseluruhan 3 x 3 m, kotak tengah 1,5 x 1,5 m, kotak-kotak lainnya berukuran 1 x 1 m. Kesembilan kotak tersebut berbentuk seperti wadah peripih yang terpatakkan langsung pada tanah asli bukit tersebut.

Menurut Stella Kramrisch, kesembilan kotak ini merupakan gambaran vastupurmandala. Kotak yang berada di tengah merupakan pusat kedudukan dan tempat terpusatnya potensi gaib yang menguasai alam semesta, sedangkan 8 kotak lainnya merupakan penjelmaan dewa mata angin. Hal semacam itu tidak dijumpai pada candi II. Di sebelah kedua bangunan inti terdapat gapura masuk berbentuk paduraksa (bentuk seperti bangunan candi tetapi berlubang di tengah sebagai jalan masuk).

Bila dilihat dari segi arsitektur dan konstruksi bangunan Candi Barong, sangat jelas bahwa latar belakang keagamaannya adalah Hindu, tetapi fokus pemujaannya kepada Dewa Wisnu. Hal ini ditunjukkan dengan adanya temuan arca lepas yaitu arca Dewa Wisnu dan istrinya, Dewi Sri. Temuan arca lepas lainnya berupa arca yang belum selesai dikerjakan (unfinish), kotak peripih, mangkuk, guci keramik, mata kapak, dan sendok.

Keistimewaan Candi Barong antara lain: tata letak Candi Barong menunjukkan adanya kontinuitas dengan tradisi masa prasejarah, khususnya masa megalitikum/periode batu besar. Hal ini ditunjukkan dengan pola pembagian halaman ke belakang dengan ketinggian teras berbeda, dan kedudukan bangunan inti terletak pada batur yang tertinggi.

Konstruksi bangunannya didirikan pada sebuah bedrock (batu cadas) sebagai alasnya. Candi Barong dibangun secara bertahap, titik pusat (brahmastana) halaman menjadi satu dengan titik pusat bangunan candi.

Candi Barong mulai ditangani secara intensif sejak tahun 1979 (kegiatan prapemugaran), kemudian dilanjutkan dengan studi teknis pada tahun 1985 dan dipugar mulai tahun 1987 sampai dengan tahun 1999. Untuk selanjutnya, candi ini dimanfaatkan sebagai salah satu aset wisata untuk Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Administratively, Candi Barong is located in Dawangsari Hamlet, Sambirejo Village, Prambanan District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. Geographically, Candi Barong is situated in a limestone hilly area characterized by rain-fed rice fields and relatively infertile soil, at an elevation of 199.27 meters above sea level and at coordinates 110° 2′ 343″ E and 7° 46′ 16″ S.

The name “Candi Barong” given by the local community is closely associated with the presence of kala ornaments on each side of the temple body. These ornaments resemble representations of barongan. The oldest literature mentioning this temple is the ROD 1915, in which Candi Barong is referred to as Candi Sari Sorogedug

Candi Barong and its surrounding area constitute one of the historical heritage areas that demonstrate elements of Buddhist and Hindu religious traditions dating from the 9th–10th centuries CE. Numerous material cultural remains have been discovered around Candi Barong. These include temples and other structures, such as Candi Miri and Candi Dawangsari, a Ganesha statue, the Ratu Boko Site, and a statue of the Dhyani Bodhisattva from Sumberwatu.

Since no authentic source in the form of an inscription explicitly describing the history of Candi Barong has yet been discovered, archaeologists have provisionally concluded that Candi Barong was constructed between the 9th and 10th centuries CE, or toward the end of the Central Javanese Classical period.

The archaeologists’ dating of the construction of Candi Barong is based on the layout, architectural style, and ornamentation of the main buildings. Candi Barong has a terraced layout extending toward the rear along an east–west axis, with its main buildings situated at the highest point. During the Central Javanese Classical period, temples generally had a centralized layout, with the main building positioned at the center of the complex. The architectural style and building profiles of Candi Barong are relatively simple, while the decorative elements are not particularly elaborate. The most prominent ornament is the kala decoration located above the niches of the buildings.

This type of kala ornament is commonly found in temples in East Java, which archaeologists generally consider to have been constructed later than those of the Central Javanese Classical period. Kala ornaments from the Central Javanese Classical period typically appear “fierce and frightening,” whereas those of the East Javanese Classical period appear to be “smiling.” Archaeologists believe that the shift of the center of the Classical period from Central Java toward East Java is estimated to have occurred around the late 9th to 10th centuries CE.

The limestone environment surrounding Candi Barong has resulted in dry and infertile soil. At the same time, the local population depended on agriculture for their livelihood. These conditions encouraged the community to use a rain-fed agricultural system to meet their water requirements. This situation was closely related to the lives of the people who supported the temple at that time. Given the arid environmental conditions and the community’s strong dependence on agriculture as their primary livelihood, they worshipped Lord Vishnu and Goddess Sri as their principal deities.

In Indian mythology, Lord Vishnu is regarded as the preserver and protector of the world. One of the Vishnu statues discovered at this temple is depicted seated in the paryankasana posture, with his hand in the varamudra gesture, a hand position symbolizing the granting of blessings. Goddess Sri is regarded as one of Vishnu’s shakti or divine consorts and is associated with the Rice Goddess in Javanese society, a belief that continues to the present day. Thus, through the worship of Lord Vishnu and Goddess Sri, devotees were expected to receive blessings of fertility, thereby contributing to increased prosperity and well-being for the community.

The main structures located on Terrace I consist of two temple buildings, each measuring 8.18 × 8.18 meters and 9.05 meters in height. They face west and are arranged in a north–south alignment, with Temple I to the north and Temple II to the south. Neither temple has an inner chamber (bilik) although the central part of each temple is hollow. Instead, they contain niches whose upper thresholds are decorated with kala motifs on all four sides of the walls. Unlike the kala decorations commonly found on other temples, which tend to appear fierce and frightening, the kala ornaments at Candi Barong appear somewhat smiling.

Like temple structures in general, Candi Barong is divided into three main sections: the base, the body, and the roof. During dismantling carried out as part of the restoration process, nine square compartments were discovered beneath Temple I, with the largest compartment located at the center. The overall arrangement measures 3 × 3 meters, with the central compartment measuring 1.5 × 1.5 meters and the remaining compartments measuring 1 × 1 meter each. The nine compartments were shaped like peripih containers and were placed directly on the original bedrock of the hill.

According to Stella Kramrisch, these nine compartments represent a vastupurmandala. The central compartment represents the center of position and the concentration of supernatural forces governing the universe, while the other eight compartments represent the manifestations of the deities associated with the cardinal directions. Such an arrangement was not found beneath Temple II. Beside the two main temple structures is an entrance gate in the form of a paduraksa, resembling a temple structure with an opening in the center serving as an entrance.

From the perspective of its architecture and construction, it is clear that Candi Barong has a Hindu religious background, with its worship particularly focused on Lord Vishnu. This is demonstrated by the discovery of detached statues of Lord Vishnu and his consort, Goddess Sri. Other detached finds include an unfinished statue, peripih containers, bowls, ceramic jars, axe heads, and spoons.

One of the distinctive features of Candi Barong is its layout, which demonstrates continuity with prehistoric traditions, particularly those of the Megalithic period or the period characterized by large stone monuments. This is indicated by the arrangement of the courtyards extending toward the rear with terraces of varying heights, with the main buildings positioned on the highest platform.

The temple structures were constructed directly upon bedrock as their foundation. Candi Barong was built in stages, with the central point (brahmastana) of the courtyard coinciding with the central point of the temple structure.

Candi Barong began to receive intensive attention in 1979 through preliminary restoration activities. This was followed by technical studies in 1985, and restoration was carried out from 1987 to 1999. Subsequently, the temple has been utilized as one of the tourism assets of the Special Region of Yogyakarta.

Candi Ijo “Candi Tertinggi di Sleman”

Sumber foto: https://yoursay.suara.com/news/2020/07/20/154934/candi-ijo-candi-tertinggi-di-jogja-cocok-untuk-menikmati-senja

Candi Ijo secara administratif berada di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak astronomis candi ini adalah 07° 47’ 01,9” LS, 110° 30’ 43,1” BT dan berada pada 357,402 m dari permukaan air laut.

Candi Ijo merupakan kompleks percandian yang berada di atas perbukitan. Situs candi ini berupa lahan berteras-teras yang dikelilingi tebing. Lahan yang menjadi dasar atau keletakan bangunan terdiri dari atas tanah dan cadas. Tanah tersebut sangat labil, bila musim penghujan sangat becek dan bila musim kemarau tanahnya menjadi bercelah-celah atau pecah.

Kompleks Candi Ijo terdiri atas 17 struktur bangunan pada 11 teras dengan teras paling atas merupakan kedudukan candi induk. Candi induk mempunyai ukuran 1.843 × 1.845 cm, dan tinggi 1.600 cm. Di dalam candi induk terdapat sebuah bilik dengan Lingga=Yoni di dalamnya yang melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati. Pada dinding luarnya terdapat relung-relung untuk menempatkan arca Agastya, Ganesa, dan Durga.

Di depan candi induk terdapat tiga buah candi perwara. Ketiga candi perwara ini menghadap ke timur. Candi Perwara selatan mempunyai ukuran denah 519 × 517 cm, dengan tinggi 662 cm. Di dalam bilik candi perwara selatan tidak ditemukan apa-apa. Candi perwara tengah mempunyai ukuran denah 630 × 515 cm, tinggi 650 cm. Di dalam bilik candi perwara tengah ditemukan nandi dan meja batu (padmasana). Candi perwara utara mempunyai ukuran denah 511 × 511 cm, tinggi 630 cm. Pada bilik candi ini tidak ditemukan apa-apa.

Keempat candi tersebut berada pada satu halaman. Di halaman ini juga ditemukan delapan buah Lingga patok yang berada pada masing-masing arah mata angin. Struktur bangunan lain yang berada  di kompleks percandian Ijo, antara lain terdapat pada teras kesembilan, berupa sisa-sisa batur bangunan yang menghadap ke timur. Di teras kedelapan terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan serta ditemukan dua buah prasasti batu.

Pada salah satu prasasti yang ditemukan di atas dinding pintu masuk candi (candi F) terdapat tulisan Guywan, oleh Soekarto dibaca Bhuyutan yang berarti pertapaan. Prasasti batu yang lain berisi 16 buah Om saruwawinasa, saruwawinasa. Prasasti-prasasti tersebut tidak berangka tahun, tetapi dari sudut pandang paleografis, diperkirakan dari abad VIII-IX M.

Pada teras kelima terdapat satu buah candi dan dua buah batur, sedangkan pada teras keempat dan teras pertama, masing-masing terdapat satu buah candi. Pada teras kedua, ketiga, keenam, ketujuh, dan kesepuluh tidak ditemukan satu pun bangunan.

Berdasarkan temuan arca-arca di Candi Ijo, dapat diketahui bahwa candi ini merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Agama ini berkembang di Indonesia pada abad IX M. Dari data epigrafi, Candi Ijo diperkirakan dibangun antara tahun 850-900 M. Dengan sendirinya Candi Ijo mempunyai hubungan dengan raja-raja yang berkuasa pada tahun tersebut. Berdasarkan pada perkiraan ini, maka raja yang berkuasa antara tahun 850-900 M adalah Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi (prasasti dari Raja Belitung).

Candi Ijo merupakan bangunan pemujaan peninggalan dari masa klasik Jawa Tengah atau zaman Hindu-Buddha. Candi ini pertama kali ditemukan oleh H.E. Dorrepaal pada tahun 1886. Setelah H.E. Dorrepaa, orang asing berikutnya yang datang adalah C,A. Rosemeir yang menemukan tiga buah arca batu serta Lingga-Yoni di bilik candi induk. Ketiga arca batu tersebut adalah Ganesha, Siwa, dan sebuah arca tanpa kepala bertangan empat yang satu di antaranya membawa cakra.

Tokoh berikutnya adalah H.L. Heidjie Melville yang telah berhasil membuat tata letak bangunan Candi Ijo. pada penggalian yang dilakukan di sumuran candi induk, ditemukan lembaran emas bertulis, cincin emas, batu merjan, dan sejenis biji-bijian. Setelah dibaca oleh Y.G. de Casaris, tulisan dalam lembaran emas tersebut terbaca “Pandu Rangga Bhasmaja”.

Penelitian berikutnya dilakukan oleh Dinas Purbakala mulai tahun 1958 sampai dengan berhasilnya pemugaran candi induk pada tahun 1997. Dari tahun 1998 penelitian dialihkan pada tiga buah candi perwara yang juga sudah berhasil dipugar pada tahun 2004. Dari tahun 2005 sampai 2009, pemugaran dilakukan pada pagar teras XI yang mengitari candi induk dan ketiga candi induk dan ketiga candi perwara. Pada tahun 2011, dipugar Candi K dan Batur L, serta talud sisi barat dan selatan teras XI. Pada tahun 2015, dilakukan pemugaran terhadap Candi F, candi yang bahan penyusunnya terbuat dari batu putih. Sampai sekarang, penelitian di kompleks Candi Ijo masih terus dilangsungkan.

Candi Ijo is administratively located in Groyokan Hamlet, Sambirejo Village, Prambanan District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. Astronomically, the temple is located at 07° 47′ 01.9″ S, 110° 30′ 43.1″ E, at an elevation of 357.402 meters above sea level.

Candi Ijo is a temple complex situated on a hill. The temple site consists of a terraced area surrounded by cliffs. The land on which the structures stand consists of soil and exposed bedrock. The soil is highly unstable; during the rainy season, it becomes very muddy, while during the dry season, it develops cracks and fissures.

The Candi Ijo complex consists of 17 architectural structures distributed across 11 terraces, with the uppermost terrace serving as the location of the main temple. The main temple measures 1,843 × 1,845 cm and is 1,600 cm high. Inside the main temple is a chamber containing a Lingga-Yoni, symbolizing the union of Lord Shiva and Goddess Parvati. The exterior walls contain niches intended to house statues of Agastya, Ganesha, and Durga.

In front of the main temple are three subsidiary temples. All three subsidiary temples face east. The southern subsidiary temple measures 519 × 517 cm and is 662 cm high. Nothing was found inside its chamber. The central subsidiary temple measures 630 × 515 cm and is 650 cm high. Inside its chamber were a Nandi statue and a stone table (padmasana). The northern subsidiary temple measures 511 × 511 cm and is 630 cm high. Nothing was found inside its chamber.

The four temples are situated within a single courtyard. Eight marker Linggas were also found in this courtyard, each positioned according to the cardinal directions. Other structures within the Candi Ijo complex include the remains of a building base on the ninth terrace, facing east. The eighth terrace contains three temples and four building bases, as well as two stone inscriptions.

One of the inscriptions, found above the entrance wall of the temple known as Candi F, bears the word Guywan, which Soekarto read as Bhuyutan, meaning a place of ascetic retreat or hermitage. Another stone inscription contains sixteen occurrences of Om saruwawinasa, saruwawinasa. These inscriptions are undated; however, based on paleographic analysis, they are estimated to date from the eighth to ninth centuries CE.

The fifth terrace contains one temple and two building bases, while the fourth and first terraces each contain one temple. No structures have been found on the second, third, sixth, seventh, and tenth terraces.

Based on the statues discovered at Candi Ijo, it can be established that the temple has a Hindu religious background. Hinduism developed in Indonesia during the ninth century CE. Based on epigraphic evidence, Candi Ijo is estimated to have been constructed between 850 and 900 CE. Consequently, the temple was associated with the kings who ruled during this period. Based on this estimation, the rulers of the period between 850 and 900 CE were Rakai Pikatan and Rakai Kayuwangi, as indicated by inscriptions associated with King Balitung.

Candi Ijo is a place of worship dating from the Central Javanese Classical period, or the Hindu-Buddhist era. The temple was first discovered by H.E. Dorrepaal in 1886. Following H.E. Dorrepaal, the next foreign researcher to visit the site was C.A. Rosemeir, who discovered three stone statues and a Lingga-Yoni inside the chamber of the main temple. The three stone statues were identified as Ganesha, Shiva, and a headless four-armed figure, one of whose hands holds a chakra.

The next researcher was H.L. Heidjie Melville, who successfully produced a site plan of the Candi Ijo complex. Excavations conducted in the sumuran (foundation shaft) of the main temple uncovered inscribed gold sheets, a gold ring, coral beads, and various types of seeds. After being deciphered by Y.G. de Casaris, the inscription on the gold sheets was read as “Pandu Rangga Bhasmaja”.

Subsequent research was conducted by the Archaeological Service beginning in 1958 and continued until the restoration of the main temple was successfully completed in 1997. Beginning in 1998, research shifted to the three subsidiary temples, which were successfully restored in 2004. From 2005 to 2009, restoration work was carried out on the enclosure wall of Terrace XI surrounding the main temple and the three subsidiary temples. In 2011, Candi K and Batur L were restored, along with the western and southern retaining walls of Terrace XI. In 2015, restoration was undertaken on Candi F, a temple whose construction material consists of white stone. Research and archaeological work at the Candi Ijo complex are still ongoing to this day.

Tingkatkan Kualitas Layanan Informasi Wisata, Dispar Sleman Pertajam Keahlian Konten Digital Tim PPID

SLEMAN – Guna mempermudah masyarakat dan wisatawan dalam mendapatkan informasi kepariwisataan yang cepat, akurat, dan menarik, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bintek) Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi (PPID). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Sapta Pesona 2.2 Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman pada Kamis (24/9/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Agastya Dedy Kusuma, S.IP., yang memberikan pembekalan mendalam mengenai penulisan berita, penyusunan caption, serta teknik pengambilan foto dan video untuk konten website maupun media sosial pemerintah

Melalui pembinaan ini, jajaran pengelola media informasi Dinas Pariwisata Sleman diajak untuk mengubah sudut pandang dalam mempublikasikan konten. Fokus utama yang ditekankan adalah menyajikan informasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Konten tidak lagi sekadar melaporkan agenda kegiatan internal, melainkan dikemas menjadi informasi yang bermanfaat bagi publik, seperti panduan destinasi wisata, transparansi pelayanan, hingga kemudahan akses pendaftaran program kepariwisataan.

“Selain dari sisi penulisan, kualitas visual juga menjadi perhatian penting.” Ujar Agastya.

Pengambilan foto dan video dioptimalkan agar tidak sekadar menjadi dokumentasi teknis, tetapi mampu bercerita (storytelling) dan menarik perhatian publik.

Tim pengelola juga dibekali pemanfaatan berbagai alat bantu digital modern dan sumber daya manusia untuk mendukung proses kreatif tanpa mengurangi keaslian data maupun pernyataan resmi pimpinan.

Melalui penguatan kapasitas ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya untuk memfungsikan website sebagai pusat data resmi dan media sosial sebagai sarana komunikasi yang interaktif.  Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan layanan informasi publik yang makin dekat, transparan, dan komunikatif bagi warga maupun calon wisatawan.

Dua Wakil Sleman Raih Prestasi dalam Lomba Desa/Kampung Wisata DIY 2026

SLEMAN – Kabupaten Sleman kembali menorehkan prestasi dalam Lomba Desa/Kampung Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026. Dua desa wisata yang mewakili Kabupaten Sleman, yakni Desa Wisata Gabugan dan Desa Wisata Pulesari, berhasil meraih penghargaan dalam ajang tingkat DIY tersebut.

Desa Wisata Gabugan berhasil meraih peringkat III, sementara Desa Wisata Pulesari memperoleh penghargaan khusus sebagai Pemenang Kategori Pemberdayaan Ekonomi Terbaik. Capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Sleman sekaligus menunjukkan perkembangan pengelolaan desa wisata yang melibatkan potensi dan peran aktif masyarakat.

Penghargaan diserahkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam acara Penyerahan Penghargaan Lomba Desa/Kampung Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 yang berlangsung di Ballroom Hotel Grand Rohan Jogja, Selasa (22/9/2026). Kabupaten Sleman dalam kesempatan tersebut dihadiri oleh Bupati Sleman dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Desa Wisata Gabugan dan Desa Wisata Pulesari atas capaian yang telah diraih.

“Selamat kepada Desa Wisata Gabugan dan Desa Wisata Pulesari yang telah membawa nama Kabupaten Sleman dan berhasil meraih prestasi di tingkat DIY. Capaian ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan potensi desa, memperkuat pemberdayaan masyarakat, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Prestasi yang diraih Gabugan dan Pulesari menjadi gambaran bahwa desa wisata di Kabupaten Sleman terus berkembang melalui pengelolaan yang mengedepankan potensi lokal, kreativitas, serta keterlibatan masyarakat. Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi pemacu bagi desa wisata lainnya di Sleman untuk terus berinovasi dan mengembangkan keunggulan masing-masing.

Keberhasilan dua wakil Sleman ini sekaligus menambah catatan positif dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Dari potensi desa, lahir prestasi yang mengharumkan nama Sleman di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dinas Pariwisata Sleman Gelar Pembinaan Pegawai Guna Tingkatkan Produktivitas Pegawai Dalam Melayani Masyarakat

SLEMAN – Dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kesehatan  pegawai, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Pegawai yang diselenggarakan pada Senin (21/09/2026) di Ruang Rapat Sapta Pesona 1.1. Kegiatan ini dipandu oleh Sekretaris Dinas Pariwisata, Erny Maryatun, S.IP., M.T., serta menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan Puskesmas Ngaglik II.

Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari hasil pelaksanaan deteksi dini kesehatan pegawai di Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Ngaglik II pada 31 Juli 2026, yang diikuti oleh 54 orang pegawai. Dari hasil evaluasi tersebut, ditemukan sejumlah catatan kesehatan yang memerlukan interversi segera, di antaranya 23 orang kurang konsumsi buah dan sayur, serta temuan medis berupa 37 pegawai dengan status Indeks Masa Tubuh (IMT) obesitas, 30 orang mengalami hiperurisemia, dan 14 orang memiliki tensi di atas batas normal.

Kepala Puskesmas Ngaglik II, Sri Mujianto, S.P.M., M.P.H. selaku narasumber menyampaikan pentingnya pengertian deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM) karena tingginya angka risiko yang murni diakibatkan oleh kebiasaan sehari-hari.

“PTM itu berbeda dengan penyakit menular, sumber utamanya adalah gaya hidup. Sangat penting melakukan deteksi dini agar penyakit tidak berkembang dan mengarah pada komplikasi fatal seperti stroke,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan edukasi terkait kewaspadaan terhadap sinyal tubuh. Ia mengingatkan bahwa munculnya keringat dingin bisa menjadi tanda hipoglikemia (kadar gula darah rendah), sementara untuk peserta wanita, siklus menstruasi tidak teratur dan keputihan berulang harus diwaspadai sejak dini.

Rejeki Tri Lestari, S.Tr.Kep dari Puskesmas Ngaglik II yang juga turut hadir, menekankan bahwa tes kebugaran ini memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan tes kesehatan wajib bagi calon jemaah haji. Beliau juga menyampaikan pentingnya pemantauan tensi secara berkala, minimal setiap dua minggu sekali, meskipun sedang merasa sehat.

Dalam kegiatan tersebut, Tini Janarti, S.ST., selaku narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyampaikan solusi dan langkah pencegahan PTM dengan membekali para pegawai dengan materi “30 Hari Menuju Kebugaran.” Para pegawai diajarkan untuk mulai menanamkan afirmasi positif “saya percaya saya mampu” untuk menjaga asupan cairan, merutinkan jalan kaki, hingga latihan fisik seperti mengangkat barbel ringan, yang seluruhnya dapat dipantau melalui metode ceklis harian.

Dukungan untuk hidup sehat tidak hanya datang dari aspek medis, tetapi juga lingkungan sosial. Sekretaris Dinas Pariwisata turut memberikan kiat praktis bagi para pegawai. Ia menyarankan agar setiap pasangan suami-istri di rumah memiliki komitmen untuk saling mengingatkan secara suportif apabila berat badan pasangan sudah mulai berlebih.

Rangkaian kegiatan yang selaras dengan nilai-nilai budaya pemerintahan BerAKHLAK dan SATRIYA ini, diakhiri dengan komitmen bersama seluruh pegawai  Dinas Pariwisata Sleman untuk menerapkan pola hidup sehat dan menajemen stres yang lebih baik demi mendukung produktivitas kerja.

 

Warga Sleman Bangga, Mahasiswa Asing Kepincut Pesona Kaliurang dalam Famtrip “Active Youth, Happy Future 2026”

SLEMAN – Kawasan lereng Gunung Merapi tampak lebih cerah dan ramai dari biasanya pada 20 September 2026 lalu. Kehadiran puluhan mahasiswa internasional yang tergabung dalam program “Active Youth, Happy Future 2026” sukses mencuri perhatian warga lokal. Kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman ini menyisakan kesan mendalam, tidak hanya bagi para peserta, tetapi juga bagi masyarakat setempat yang menyambut hangat kedatangan mereka.
Bagi warga Sleman, melihat anak-anak muda dari berbagai belahan dunia mengagumi tanah kelahiran mereka mendatangkan rasa bangga yang luar biasa. Sebanyak 21 mahasiswa dari Pakistan, Yaman, Gambia, Timor Leste, Mesir, India, dan Indonesia diajak menjelajahi ikon-ikon wisata terbaik di kawasan Kaliurang, Cangkringan, hingga Obelix Village.

Aksi Nyata Bersih-Bersih yang Menyentuh Hati Warga
Salah satu momen yang paling berkesan bagi masyarakat adalah saat para peserta berkumpul di Kawasan Tlogo Putri. Tidak sekadar jalan-jalan, para mahasiswa asing ini membaur membuat konten video kebersihan untuk memperingati World Clean Up Day.
“Senang sekali melihat anak-anak muda dari luar negeri peduli dengan kebersihan lingkungan kami. Ini jadi contoh yang baik juga buat wisatawan lokal,” ujar salah satu pedagang di sekitar Tlogo Putri. Warga merasa aksi ini menjadi bukti bahwa keindahan alam Sleman memang layak dijaga bersama oleh masyarakat dunia.

Antusiasme Menular, Naik Jeep hingga Belajar Sejarah
Keseruan berlanjut saat rombongan menaiki Jeep wisata menyusuri rute ekstrem khas lereng Merapi. Deru mesin Jeep dan tawa lepas para peserta yang tak sabar memacu adrenalin menjadi pemandangan yang menghibur warga sepanjang rute Cangkringan.
Masyarakat juga mengapresiasi ketertarikan mendalam para mahasiswa saat mengunjungi destinasi sarat sejarah seperti Museum Mini Sisa Hartaku dan Batu Alien. Warga setempat melihat para peserta sangat menghargai cerita ketangguhan masyarakat Sleman dalam menghadapi bencana erupsi Merapi di masa lalu. Perjalanan hari itu ditutup dengan suasana santai dan modern di Obelix Village, memperlihatkan sisi lain pariwisata Sleman yang ramah untuk semua kalangan.

Harapan Besar Warga: Sleman Mendunia
Dari obrolan di akhir acara, para peserta mengaku sangat puas dan membawa pulang segudang pengalaman berharga yang siap mereka ceritakan ke negara asal. Mereka juga siap merekomendasikan Sleman dan Yogyakarta sebagai destinasi wajib di kancah internasional.
Masyarakat Sleman berharap, keramahan yang mereka berikan dan pesona alam yang dinikmati para mahasiswa asing ini dapat menjadi bahan cerita yang menarik saat mereka pulang nanti. Dengan begitu, impian melihat pariwisata Kabupaten Sleman makin dikenal di dunia internasional lewat cerita para “duta muda” ini bisa segera terwujud.

#famtrip #wisatasleman #merapi #visitingjogja #kaliurang