Beranda blog Halaman 105

Candi Barong

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”27″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”20″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” maximum_entity_count=”500″]Candi barong merupakan candi peninggalan agama Hindu yang terletak di Dusun Candisari, Bokoharjo, Prambanan. Disebut Candi Barong karena terdapat hiasan kala di relung tubuh candi yang tampak seperti Barong. Keberadaan Candi Barong yang juga bernama Candi Sari Suragedug disebutkan dalam Prasasti Ratu Baka (856 M) dalam bahasa Sansekerta dan ditulis menggunakan huruf Jawa kuno. Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang seorang raja bernama Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava yang membangun tiga ‘lingga’, yaitu Krttiwasalingga dengan pendamping Dewi Sri, Triyarbakalingga dengan pendamping Dewi Suralaksmi, dan Haralingga dengan pendamping Dewi Mahalaksmi. Diperkirakan bangunan yang dimaksud adalah Candi Barong. Dalam Prasasti Pereng (863 M), yang juga ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Jawa kuno, disebutkan bahwa pada tahun 784 Saka (860 M) Rakai Walaing Pu Kumbhayoni menganugerahkan sawah dan dua bukit di Tamwahurang untuk keperluan pemeliharaan bangunan suci Syiwa bernama Bhadraloka. Para ahli berpendapat bahwa Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava adalah Pu Kumbhayani dan bangunan Syiwa yang dimaksud adalah Candi Barong.

Berbeda dengan candi-candi lainnya di Jawa Tengah, Candi Barong merupakan bangunan punden berundak, yaitu model bangunan suci pada masa prahindu. Candi ini terdiri atas teras bersusun tiga, makin ke atas main sempit. Luas teras pertama adalah 90 x 63 m2, sedangkan teras kedua adalah 50 x 50 m2. Dilihat dari letak tangga naik dari teras ke terasnya, candi Hindu ini menghadap ke barat. Di pertengahan sisi barat terdapat tangga naik dari teras pertama ke teras kedua setinggi sekitar 4 m dengan lebar 3 m.

Teras ketiga, yang berukuran 25 x 38 m2, terletak 5 m dari permukaan teras kedua, dan dapat dicapai melalui tangga selebar 3,2 m. Tangga tersebut dilengkapi dengan pipi tangga di kiri-kanannya. Di pangkal tangga terdapat hiasan menyerupai ‘ukel’ yang sudah tidak jelas bentuknya. Di kiri dan kanan dinding pipi tangga terdapat hiasan berupa daun kalpataru yang sebagian sudah rusak. Di puncak tangga terdapat gerbang beratap (gapura paduraksa) menuju ke pelataran teras ketiga. Di atas ambang gapura terdapat hiasan Kalamakara.

Dinding teras diberi penguat berupa susunan balok batu andesit yang diperhalus dengan lapisan batu putih di permukaannya. Dinding teras candi, dari teras terbawah sampai yang teratas, terlihat polos tanpa hiasan. Mendekati ujung selatan dinding barat teras ketiga terdapat ceruk yang belum jelas fungsinya.

Di pelataran teras teratas, yang dianggap sebagai tempat yang tersuci terdapat dua bangunan berjajar arah utara-selatan, masing-masing mempunyai luas dasar 8 x 8 m2. Bangunan pertama terletak di ujung selatan, sedangkan yang kedua terletak di tengah pelataran, tepat berhadapan dengan tangga. Di ujung utara terdapat reruntuhan bangunan yang belum dipugar.

Kedua bangunan yang ada tidak mempunyai mempunyai pintu masuk ke tubuh candi, karena tidak terdapat ruangan di dalamnya, walaupun, menurut hasil penelitian, diperkirakan terdapat rongga dalam tubuh bangunan. Relung-relung yang ada saat ini dalam keadaan kosong. Arca yang pernah ditempatkan di sana sudah tak bersisa, walaupun konon pada saat pemugarannya ditemukan 3 arca dewi dan 4 arca dewa yang berciri Syiwaistik. Pada keempat sisi masing-masing bangunan hanya terdapat relung tempat menaruh arca. Di atas ambang relung terdapat hiasan kalamakara lengkap dengan rahang bawah yang sangat sederhana pahatannya.

Tidak terdapat hiasan relief pada dinding dan kaki bangunan, hanya ada pahatan berpola dedaunan dan sosok manusia yang sederhana. Atap candi bersusun dengan puncak runcing. Pelipit atap berpola bunga dan kumuda.

Candi Ijo

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”28″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”20″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” maximum_entity_count=”500″]Candi Ijo dibangun di atas Bukit Hijau atau Gumuk Ijo dan menjadi candi dengan lokasi paling tinggi di Yogyakarta. Dari teras candi, pengunjung bisa menyaksikan bentang alam nan indah dan juga sunset yang menawan.

Kawasan Yogyakarta bagian timur kaya akan bangunan candi megah hingga candi-candi kecil nan indah. Mulai dari yang paling popular seperti Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko, hingga candi-candi tersembunyi seperti Candi Plaosan, Candi Sambisari, Candi Barong, Candi Sojiwan, Candi Sewu, Candi Tara, dan masih banyak lagi. Salah satu candi cantik yang belum begitu banyak diperbincangkan adalah Candi Ijo.

Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9. Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Peletakan bangunan pada tiap teras berdasarkan pada kesakralannya, dan bangunan yang berada di teras tertinggi merupakan bangunan yang paling sakral. Saat ini bangunan yang masih utuh terletak pada teras ke-11. Di teras tertinggi tersebut terdapat empat bangunan berupa satu candi utama dan tiga candi pewara.

Terletak di selatan Kompleks Istana Ratu Boko, Candi Ijo berdiri dengan gagahnya. Bangunannya yang berada di lereng bukit menjadikan candi ini sebagai candi dengan lokasi tertinggi di Jogja. Dari teras candi, wisatawan bias menyaksikan pemukiman penduduk dan areal perladangan di bawah, burung-burung besi yang landing maupun take off dari bandara Adi Sutjipto, landskap Merapi, hingga pemandangan mentari senja.

Fakta Menarik di Candi Ijo

  • Candi Ijo terletak pada ketinggian 410 m di atas permukaan laut sehingga menjadi kompleks candi dengan lokasi tertinggi di Yogyakarta.
  • Waktu terbaik untuk menikmati pesona Candi Ijo adalah sore hari dimana bebatuan candi terguyur sinar mentari senja. Selain itu pengunjung bisa menyaksikan sunset yang indah.
  • Pada teras ke-9 Candi Ijo terdapat prasasti batu yang memuat mantra-mantra yang diperkirakan berupa kutukan.
  • Di sekitar Candi Ijo terdapat lokasi penambangan Batu Gamping. Areal penambangan yang berupa tebing-tebing kapur berwarna putih ini kerap dijadikan lokasi pemotretan. Orang-orang sering menyebutnya sebagai White Canyon.

Lokasi dan Akses

Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Untuk mencapai Candi Ijo wisatawan yang datang dari arah Solo bisa menyusuri jalan raya Prambanan – Piyungan. Setelah melewati Istana Ratu Boko silahkan belok ke kiri mengikuti penunjuk arah. Jalan menuju Candi Ijo berupa tanjakan yang lumayan curam dan bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Candi Ijo terletak tepat di kiri jalan.

Candi Kraton Ratu Boko

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”30″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”20″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” maximum_entity_count=”500″]Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.

Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan ‘Panabwara’. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi ‘kekuatan’ sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.

Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya. YogYES menyarankan anda berkunjung ke Candi Prambanan sehari sebelum Nyepi jika ingin melihat proses upacaranya.

Melangkah ke bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.

Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Sedikit yang tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, barulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Sebagai sebuah bangunan peninggalan, Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya istana ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu ditunjukkan dari adanya bangunan berupa tiang dan atap yang terbuat dari bahan kayu, meski kini yang tertinggal hanya batur-batur dari batu saja. Telusurilah istana ini, maka anda akan mendapatkan lebih banyak lagi, salah satunya pemandangan senja yang sangat indah. Seorang turis asal Amerika Serikat mengatakan, “Inilah senja yang terindah di bumi.”

Naskah: Yunanto Wiji Utomo

Candi Prambanan

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”31″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”20″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” maximum_entity_count=”500″]
Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter, berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.
 

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti ‘terbit’ atau ‘bersinar’, biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.

Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.

Nah, masih banyak lagi yang bisa digali di Prambanan. Anda tak boleh jemu tentunya. Kalau pun akhirnya lelah, anda bisa beristirahat di taman sekitar candi.

Naskah: Yunanto Wiji Utomo

Museum Geoteknlogi Mineral UPN

Museum Geoteknologi Mineral (GTM) UPN Veteran Yogyakarta didirikan atas prakarsa Prof. Drs. H.R. Bambang Soeroto yang merupakan rektor pertama Universitas Pembangunan Nasional Veteran. Museum GTM diresmikan oleh Menhamkan RI Jenderal (Purn.) Poniman pada tanggal 27 Februari 1988.

Tujuan didirikannya Museum GTM adalah sebagai penunjang pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam gambaran kejadian bumi melalui peninggalan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah kejadian bumi beserta kehidupannya yang divisualisasikan melalui maket. Tujuan lain Museum GTM ini  adalah untuk melestarikan peninggalan berharga yang terdapat di bumi. Selain itu, museum ini digunakan pula sebagai media dan sarana untuk mencintai, mempelajari, dan mengembangkan ilmu kebumian.

Museum GTM mempunyai koleksi berbagai fosil, jenis mineral, batuan, bahan galian, gambar/panel dan maket yang berhubungan dengan ilmu kebumian maupun rekayasa teknologi ilmu kebumian.

Koleksi museum ini dapat dikelompokkan menjadi 4 bidang, yaitu :

Bidang Geologi
Koleksi pada bidang ini menyajikan visualisasi sejarah terjadinya bumi, geodinamika kerak bumi, batuan, dan mineral penyusunnya, serta kehidupan jutaan tahun yang lalu. Tak ketinggalan, terdapat pula maket dan gambar yang berkaitan dengan geologi sebagai pelengkap pada bagian geologi ini.

Bidang Pertambangan
Koleksi pertambangan menampilkan berbagai mineral dan batuan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar dan ornamen untuk lantai. Maket sistem tambang terbuka maupun tambang bawah tanah (Underground Mining) serta beberapa perlengkapan peledakan dan peralatan pengolahan bahan galian juga termasuk dalam koleksi pada bidang ini.

Bidang Perminyakan
Koleksi bidang perminyakan meliputi maket konstruksi anjungan peralatan eksplorasi maupun eksploitasi (rig produksi) minyak bumi, minyak lepas pantai dan beberapa contoh minyak mentah yang belum maupun yang sudah diolah menjadi bahan bakar atau bahan baku industri kimia.

Bidang Pertanian
Koleksi pada bidang ini menampilkan berbagai monolit, profil tanah Vertisol, Andisol, Inceptisol, Alfisol, Oxisol dan Regosol yang mirip dengan aslinya dan dilengkapi dengan penjelasan sifat kimia dan fisika berbagai kandungan unsur hara untuk berbagai jenis tanaman.

http://geoteknologi.museumjogja.org

Museum Affandi

Mengunjungi Museum Affandi yang terletak di Jalan Raya Yogyakarta-Solo, atau tepatnya tepi barat Sungai Gajah Wong, memberi kesempatan bagi anda untuk menjejaki seluruh bagian berarti dari kehidupan Affandi. Anda bisa melihat karya-karya agung semasa sang maestro hidup, karya para pelukis lain yang ditampungnya, alat transportasi yang dipakainya dahulu, rumah yang ditinggali hingga sebuah sanggar yang kini dipakai untuk membina bakat melukis anak.

yogyes.com

Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu berada di dalam Taman Kaswargan, Kaliurang. Museum Ullen Sentalu adalah museum yang unik. Museum ini tidak dioperasikan oleh sebuah institusi, melainkan sebuah perusahaan. Museum swasta ini beoperasi dibawah naungan Yayasan Ulating Blencong. Selain itu, museum ini juga tidak memanfaatkan gedung yang merupakan cagar budaya. Museum ini menempati sebuah gedung baru yang sengaja dibangun pada sebuah lahan kosong. Visi Museum Ullen Sentalu adalah untuk berfungsi sebagai jendela peradaban seni dan budaya Jawa. Sedangkan misi Museum Ullen Sentalu menurut situs resmi museum ini adalah untuk mengumpulkan, mengkomunikasikan dan melestarikan warisan seni dan budaya Jawa yang terancam pudar guna menumbuhkan kebanggaan masyarakat pada kekayaan budaya Jawa sebagai jati diri bangsa.

Museum Ullen Sentalu berbeda dari museum-museum lain yang ada di Yogyakarta. Museum ini mengembangkan paradigma baru. Berbagai hal yang unik diaplikasikan di museum ini untuk membuatnya menjadi museum yang menarik, bukan museum yang membosankan. Contohnya, koleksi-koleksi museum ini tidak diberi label. Jadi, museum ini mengandalkan tour guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang ada disana. Tentunya, mendengarkan penjelasan dari seorang tour guide saat mengunjungi sebuah museum jauh lebih menarik daripada sekedar melihat-lihat berbagai benda koleksi museum yang diberi label.

Di Museum Ullen Sentalu terdapat banyak ruangan, yang meliputi:

  1. Ruang Selamat Datang, yang merupakan ruang penyambutan tamu/pengunjung museum.
  2. Ruang Seni Tari dan Gamelan, yang berisi seperangkat gamelan yang dihibahkan oleh seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta.
  3. Ruang Guwa Sela Giri, yang merupakan ruangan yang dibangun dibawah tanah. Di ruangan ini dipamerkan karya-karya lukis dokumentasi tokoh-tokoh dari Dinasti Mataram.
  4. Ruang Syair, yang menampilkan syair-syair yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947.
  5. Royal Room Ratu Mas, yaitu ruangan yang dipersembahkan untk permaisuri Sunan Paku Buwana X.
  6. Ruang Batik Vorstendlanden, yang menampilkan koleksi batik.
  7. Ruang Batik Pesisiran, yang juga berisi koleksi kain batik.
  8. Ruang Putri Dambaan, yang menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII dari kecil hingga menikah.
  9. Sasana Sekar Bawana, yang berisi beberapa lukisan raja Mataram.

Selain melihat-lihat isi museum, para pengunjung juga dapat menikmati indahnya hutan alami dan taman yang ada disana. Dan tentunya, karena museum ini terletak di pegunungan, udara disana segar dan cocok untuk bersantai.

Museum Dirgantara

Museum TNI AU diresmikan pada tanggal 4 April 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Rusmin Nuryadin berkedudukan di Makowilu V Tanah Abang Bukit, Jakarta.

Dengan pertimbangan antara lain bahwa Yogyakarta merupakan tempat lahir dan pusat perjuangan TNI AU periode 1945-1949 serta tempat penggodokan Karbol AAU, maka pada bulan November 1977 Museum AURI di Jakarta dipindahkan dan diintegrasikan dengan Museum di Ksatrian AAU di Pangkalan Adisutjipto, Yogyakarta, dan tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Mengingat semakin bertambahnya koleksi, maka pada tahun 1984 Museum dipindahkan ke Wonocatur menempati sebuah gedung bersejarah. Gedung tersebut semasa penjajahan Belanda adalah sebuah pabrik gula dan pada waktu pendudukan Jepang digunakan sebagai Depo Logistik. Pada bulan Oktober 1945 BKR dan para pejuang kemerdekaan berhasil merebut Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto) dari tangan Jepang, termasuk segala unsur logistik dan fasilitasnya yang kemudian digunakan sebagai unsur kekuatan awal TNI Angkatan Udara.

Letak Museum Dirgantara Yogyakarta tidak jauh dari pusat kota, sehingga museum ini sangat mudah untuk dijangkau. Museum dengan area yang sangat luas ini letaknya sekitar 200 meter dari Ring Road bagian timur, tepatnya di sekitar daerah Janti. Daya tarik utama dari museum ini adalah pesawat dan peralatan perangnya. Pesawat-pesawat yang dipamerkan pun bukan pesawat biasa, tapi sebagian besar pesawat yang memiliki nilai historis. Contohnya, ada Pesawat Pembom Guntai yang direbut dari Jepang pada jaman perang kemerdekaan dulu. Persenjataan yang dipamerkan juga persenjataan yang spesial, seperti roket, bom, senjata api, dan masih banyak lagi. Tapi, sebenarnya bukan hanya hal-hal seperti itu saja yang ada disana. Di dalam museum, para pengunjung juga dapat melihat-lihat foto-foto bersejarah, lambang-lambang Angkatan Udara, diorama sejarah, dokumen-dokumen dari masa perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan, dan masih banyak lagi. Jadi, para pengunjung dapat sekaligus belajar sejarah sambil berwisata.

Selain sekedar melihat-lihat koleksi pesawat yang ada di Museum Dirgantara Yogyakarta, para pengunjung juga diperbolehkan untuk mencoba naik ke beberapa jenis pesawat. Para pengunjung  dapat berfoto layaknya seorang pilot, dengan biaya tambahan yang dikenakan per kamera. Ini tentunya dapat menjadi pengalaman yang tak terlupakan, khususnya bagi anak-anak. Biaya tambahan yang harus dibayarkan tidak mahal, hanya Rp. 1000,- saja. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari mulai dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 15.00. Tapi, pada hari Senin dan hari libur nasional museum ini tutup. Harga tiket masuk tidak mahal, hanya Rp. 3000,- saja per orang. Para pengunjung yang datang dalam rombongan yang terdiri dari 30 orang atau lebih akan mendapatkan potongan harga, menjadi Rp. 2000,- saja per orang.

Museum Pendidikan Indonesia

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Karena didedikasikan kepada pendidikan di negeri ini., Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan Museum Pendidikan Indonesia. Destinasi wisata edukatif sekaligus ikon Kota Pelajar ini terletak di sebelah utara Gedung Rektorat UNY. Museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 8 Juli 2008. Bagi putra-pitri atau siswa sekolah, inilah lokasi yang tepat untuk menyampaikan bahwa kejayaan bangsa ini adalah hasil harmonisasi antara tujuan perjuangan dan semangat menuntut ilmu.

Museum Pendidikan Indonesia mengelola berbagai macam koleksi, mulai dari buku sekolah, arsip kependidikan, media pembelajaran, dan masih banyak lagi. Saat ini, MPI UNY telah memiliki 5 ruang utama, yaitu Ruag Gallery 1 untuk koleksi foto dan peralatan sekolah, Ruang Gallery 2 untuk para tokoh pendidikan, Ruang Gallery 3 untuk koleksi media pembelajaran, Ruang Apresiasi Karya, dan Ruang Cinema MPI. Tak tanggung-tanggung, Ruang Cinema MPI memiliki kapasitas 116 tempat duduk dengan kualitas sound dolby surround. Selain itu, MPI UNY masih mengembangkan beberapa ruang lain untuk koleksi dan melengkapi fasilitas bagi pengunjung di MPI UNY. Event yang diselenggarakan MPI UNY seperti Festival Pendidikan, Festival Dalang Cilik dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, bagi Anda yang ingin mengunjungi MPI UNY silahkan hubungi kami di nomor telepon : (0274) 586168 psw 561 Fax (0274) 561259, email : [email protected]/ website : http://mpi.uny.ac.id Alamat: Kampus Pusat Universitas Negeri Yogyakarta. Jln. Colombo No.1, Karangmalang, Sleman, D.I. Yogyakarta, kode pos:55281. Jam kunjung; Senin-Kamis pukul 07.30 – 15.00 WIB, jumat pukul 07.30 – 13.30 WIB. Sabtu – Ahad silahkan konfirmasi. Tiket masuk Rp. 2.500/orang (sudah termasuk guide dan nonton film di Cinema untuk rombongan).

Monumen Jogja Kembali

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”40″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”20″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” maximum_entity_count=”500″]Museum Monumen Yogya Kembali, adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang ada di kota Yogyakartadan dikelola oleh Kementerian Pariwisata. Museum yang berada di bagian utara kota ini banyak dikunjungi oleh para pelajar dalam acara darmawisata.

Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman juga disimpan di sini (di ruang museum nomor 2).

Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda.

Pembangunan monumen ini dilakukan dengan memperhitungkan beberapa faktor penting. Titik pusat bangunan ini merupakan sebuah titik yang secara imajiner menghubungkan beberapa titik penting di Yogyakarta yaitu Kraton Jogja, Tugu Yogyakarta, Gunung Merapi, Parang Tritis dan juga Panggung Krapyak. Titik ini sendiri disebut sebagai Sumbu Besar Kehidupan dan penanda dari titik imajiner ini sendiri berada pada lantai 3 bangunan monumen ini.