Beranda blog Halaman 2

Menuju Desa Wisata, Warga Bangsan Perkuat Sadar Wisata

SLEMAN – Upaya merintis pengembangan Desa Wisata Bangsan, Kalurahan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, terus dilakukan dengan melibatkan masyarakat sejak tahap awal. Salah satunya melalui kegiatan Peningkatan Partisipasi Masyarakat Melalui Kampanye Sadar Wisata yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman di Bendari Farm, Sindumartani, Ngemplak, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh warga Bangsan, Kalurahan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, yang tengah merintis pengembangan Desa Wisata Bangsan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya Sadar Wisata dan Sapta Pesona sebagai dasar dalam membangun lingkungan pariwisata yang aman, nyaman, bersih, dan ramah, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menggali dan mengembangkan potensi wisata di wilayahnya.
Kegiatan diawali dengan sambutan dan pengarahan dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Usaha Pariwisata serta sambutan dari Panewu Anom Kapanewon Ngemplak, Ageng Wijaya. Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai pemahaman mengenai Sadar Wisata dan Sapta Pesona menjadi salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut. Materi ini memberikan pembekalan kepada warga mengenai pentingnya membangun kesadaran dan peran masyarakat dalam menciptakan suasana yang mendukung kegiatan kepariwisataan.


Kegiatan juga dikemas secara interaktif melalui sesi ice breaking dalam kepemanduan yang dipandu oleh Bugiman dari Desa Wisata Grogol. Sementara itu, materi mengenai pembuatan paket wisata disampaikan oleh Esthi Handayani, S.T. dari Forkom Desa Wisata Sleman. Materi tersebut menjadi bekal bagi warga untuk mulai mengidentifikasi potensi lokal yang dapat dikembangkan dan dikemas menjadi pengalaman wisata.
Dalam sambutannya, Agus Budi Nugraha menyampaikan bahwa perintisan desa wisata perlu diawali dengan membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat. Menurutnya, potensi yang ada di wilayah Bangsan perlu digali bersama agar pengembangan pariwisata dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Merintis desa wisata tidak harus langsung berbicara tentang pembangunan yang besar. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mulai sadar terhadap potensi yang ada di lingkungannya, kemudian bersama-sama menjaga, mengembangkan, dan mengemas potensi tersebut agar dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan,” ujar Agus.
Melalui kegiatan ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mendorong agar proses perintisan Desa Wisata Bangsan dilakukan secara bertahap dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengembangannya. Potensi yang dimiliki wilayah Bangsan diharapkan dapat diidentifikasi dan dikembangkan menjadi aktivitas maupun produk wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Memantau Keaktifan Desa Wisata Dinas Pariwisata Melakukan Safari Desa Wisata

SLEMAN – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman konsisten dalam mengembangkan pariwisata berbasis potensi lokal dan kekuatan masyarakat. Di tengah persaingan destinasi yang makin ketat, Pemerintah Kabupaten Sleman memilih alternative menjadikan desa wisata sebagai salah satu fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan. Salah satu langkah nyatanya hadir melalui program Safari Desa Wisata, sebagai bagian dari kegiatan monitoring dan kunjungan ke desa wisata di Kabupaten Sleman, Selasa (15/9/2026). Kegiatan tersebut menyasar tiga desa wisata, yakni Desa Wisata Gabugan, Desa Wisata Kelor, dan Desa Wisata Watu Purbo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman untuk melakukan monitoring sekaligus melihat perkembangan pengelolaan desa wisata secara langsung. Program ini bukan sekadar agenda kunjungan lapangan, melainkan upaya serius untuk memastikan desa wisata tumbuh sebagai destinasi yang hidup, dikelola dengan baik, dan benar-benar memberi manfaat bagi warga sekitar.
Safari Desa Wisata dipimpin oleh Junaidi Suharsa, S.A.P selaku Plt. Ketua Tim Kerja Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan Pariwisata yang menyampaikan bahwa ”Safari Desa Wisata juga menjadi ruang untuk bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan pengelola desa wisata. Setiap desa wisata memiliki cerita yang berbeda. Ada yang sudah matang dengan manajemen rapi dan promosi yang aktif, tetapi tak sedikit pula yang masih merintis dan membutuhkan pendampingan lebih intensif. Perbedaan inilah yang mendorong Dinas Pariwisata Sleman untuk turun langsung ke lapangan, mendengar, melihat, dan memahami kondisi desa wisata secara utuh”
Pelaksanaan Safari Desa Wisata diharapkan dapat mendukung pemantauan perkembangan desa wisata di Kabupaten Sleman secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat komunikasi antara Dinas Pariwisata dengan para pengelola desa wisata di lapangan.

Desa Wisata Pulesari dan Gabugan Wakili Sleman dalam Penganugerahan Lomba Kampung/Desa Wisata DIY Tahun 2026

Sleman, 16 September 2026 – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengikuti Rapat Koordinasi Penyerahan Penghargaan Lomba Kampung/Desa Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 16 September 2026, bertempat di Ruang Rapat Kepala Dinas Pariwisata DIY.
Rapat koordinasi ini dilaksanakan untuk mematangkan persiapan penganugerahan yang rencananya akan dilangsungkan pada 22 September 2026 mendatang di Grand Rohan Yogyakarta. Acara puncak tersebut dijadwalkan akan dihadiri secara langsung oleh Gubernur DIY serta mengundang para kepala daerah dari lima kabupaten/kota di wilayah DIY.
Dalam ajang Lomba Kampung/Desa Wisata DIY Tahun 2026 ini, Kabupaten Sleman secara resmi diwakili oleh dua desa wisata unggulan, yaitu Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Gabugan. Kedua perwakilan ini telah melalui proses kurasi dan penilaian ketat yang mencerminkan kualitas tata kelola kelembagaan, keunikan daya tarik wisata, serta penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat (community-based tourism).
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan persiapan yang telah dilakukan oleh pengelola Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Gabugan. Keikutsertaan dalam ajang tingkat regional DIY ini tidak hanya menjadi wadah apresiasi, tetapi juga momentum strategis untuk terus mengukuhkan Sleman sebagai salah satu destinasi pariwisata pedesaan terdepan di Indonesia.
Agus Budi Nugraha, SE, M.Si, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Jasa Pariwisata menyampaikan bahwa, “Melalui keikutsertaan ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman berharap Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Gabugan dapat menorehkan prestasi terbaik serta menginspirasi desa-desa wisata lainnya di Kabupaten Sleman untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata”

Desa Wisata di Sleman Raih Peringkat 15 Besar Wonderful Indonesia Awards 2026

SLEMAN – Kabar membanggakan datang dari Desa Wisata Grogol, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Desa Wisata Grogol berhasil masuk dalam peringkat 15 besar Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026, kategori Desa dan Kampung Wisata, sebagaimana diumumkan melalui media sosial resmi Kementerian Pariwisata @kemenpar.ri pada Senin (7/9/2026).

WIA merupakan ajang apresiasi Kementerian Pariwisata bagi desa dan kampung wisata yang dinilai memiliki pengelolaan dan pengembangan pariwisata yang baik. Penilaian mencakup berbagai aspek, mulai dari kelembagaan dan tata kelola, atraksi, keterlibatan masyarakat, lingkungan, amenitas, aksesibilitas, homestay, kemitraan hingga pemanfaatan digitalisasi.

Perjalanan Desa Wisata Grogol menuju 15 besar dilakukan melalui beberapa tahapan. Proses diawali dengan pemutakhiran data dan self-assessment melalui JADESTA, kemudian dilanjutkan dengan verifikasi dan kurasi secara berjenjang hingga tingkat nasional. Setelah lolos seleksi nasional, Grogol ditetapkan sebagai salah satu dari 15 finalis WIA 2026.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa potensi wisata berbasis masyarakat di Sleman mampu bersaing di tingkat nasional. Desa Wisata Grogol sendiri memiliki beragam potensi wisata alam dan budaya, di antaranya seni tradisi, kerajinan, aktivitas pertanian, edukasi, serta pengalaman tinggal bersama masyarakat melalui homestay.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengucapkan selamat kepada Desa Wisata Grogol atas prestasi sebagai finalis 15 besar Wonderful Indonesia Awards 2026. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan, menjaga kekayaan budaya dan lingkungan, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

Wujud Komitmen Menuju Kota Film Unesco Sleman Creative Weeks #6 2026 Siap Digelar

SLEMAN CREATIVE WEEKS #6 2026

Living Shared Culture: Festival Menjadi Ruang Berbagi Pengalaman Lintas Generasi

Sleman, 4 September 2026 — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pariwisata bekerja sama dengan pelaku seni budaya dan ekonomi kreatif, didukung oleh Dana Keistimewaan Yogyakarta, kembali akan menggelar Sleman Creative Weeks #6 (SCW) 2026 pada 27 September–11 Oktober 2026. Pada penyelenggaraan kali ini, SCW mengusung tema “Living Shared Culture”, Festival Menjadi Ruang Berbagi Pengalaman Lintas Generasi. SCW merupakan platform festival lintas disiplin di Kabupaten Sleman yang mengintegrasikan praktik seni, budaya, dan ekonomi kreatif dalam satu rangkaian kuratorial selama beberapa minggu. SCW diarahkan tidak hanya sebagai rangkaian kegiatan, tetapi sebagai ekosistem pendidikan publik, ruang kolaborasi lintas generasi, serta modal festival berkelanjutan berbasis seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Dalam rangka Sleman menuju jaringan kota film UNESCO di bulan kreatif ini, SCW juga menargetkan kurang lebih 50.000 pengunjung dan transaksi ratusan juta rupiah.

Sleman KiTe Festival, Berbagi Kreativitas di Bawah Satu Langit

Sleman Creative Weeks #6 menampilkan 4 rangkaian kegiatan menarik. Gelaran dibuka dengan Sleman KiTe Festival (SKF), yang merupakan ekshibisi dan kompetisi layang-layang tradisional, inovatif, dan 3D yang diselenggarakan pada 27 September 2026 di Pondok Pesantren Gus Muwafik, Sendangrejo, Minggir, Sleman, dengan mengusung tema “We Share One Sky”. SKF membawa pesan sederhana tetapi kuat. Berbagai macam layang-layang akan menghiasi langit. SKF disiapkan sebagai ruang perjumpaan masyarakat, komunitas, seniman, pelaku ekonomi kreatif, hingga generasi muda untuk merayakan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Bedog Art Festival, Merawat Rasa melalui Seni, Budaya, dan Alam

Selanjutnya, Bedog Art Festival (BAF) akan diselenggarakan pada 2–3 Oktober 2026 di Studio Banjarmili, Kradenan, Gamping, Sleman. BAF hadir dengan semangat baru dengan mengusung tema “(Nge)rawat Rasa”, sebuah perayaan seni pertunjukan yang memadukan seni ruang, budaya, dan alam di atas Sungai Bedog. Acara ini juga mengundang berbagai seniman yang akan menampilkan pertunjukan tari tradisional dan kontemporer. BAF juga akan membuka ruang sarana kegiatan pemutaran film, workshop, dan bazar UMKM sebagai wadah fasilitasi bagi para pelaku ekonomi kreatif.

Festival Pesta Boneka, Merayakan Keberagaman dan Kolaborasi Internasional

Rangkaian gelaran lainnya adalah Festival Pesta Boneka (PB), yang merupakan festival teater boneka internasional dua tahunan yang diselenggarakan oleh Papermoon Puppet Theatre pada 6–11 Oktober 2026 di Ruang Pana Kampoeng Media, Jaban, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Kali ini, PB mengusung tema “Holding Hands”, yang artinya bergandengan tangan. Keberagaman Sleman tetap satu, yaitu terbuka, ramah, dan siap menjadi kota kreatif UNESCO. PB menampilkan pertunjukan teater boneka internasional, workshop, pemutaran film dan fundraising, puppet camp, serta program inklusif untuk disabilitas bersama seniman dari berbagai negara, di antaranya Australia, Cina, Korea, dan lain-lain. Kegiatan tersebut dikemas dengan acara menarik seperti memasak dan bermain dongeng untuk anak dan keluarga.

Synergy, Showcase Sleman Menuju Kota Film UNESCO

Selanjutnya adalah Synergy, yang merupakan ekshibisi dan kompetisi film di Kabupaten Sleman yang digagas, dirancang, dan diorganisasi oleh KDM Cinema (Perkumpulan Sinema Alternatif Indonesia) untuk melengkapi dan merealisasikan visi dan misi SCW. Kegiatan ini juga menjadi showcase Sleman sebagai calon kota film UNESCO. Adapun jadwal kegiatan adalah 15 September 2026 untuk pendaftaran peserta lomba film pendek, 27 September 2026 untuk Sleman Film Competition, 2 Oktober 2026 untuk Cinema Warga, 9 Oktober 2026 untuk Youth Screen, dan 10 Oktober 2026 untuk Mise en Screen.

Menguatkan Identitas Sleman melalui Seni, Budaya, dan Film

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Irawati Palupi Dewi, menyampaikan, “Persiapan penyelenggaraan tahun ini, SCW 2026 hadir untuk menguatkan identitas Sleman menuju jaringan kota film sekaligus mendorong ekosistem ekonomi kreatif agar terus hidup dan berbagi. Kami berharap semangat Sleman menuju jaringan kota film UNESCO terus menyala. Melalui film dan budaya, Sleman tidak hanya bercerita, tetapi juga menghidupi masyarakat dan membuka jalan menuju “UNESCO Creative Cities Network”,” ujarnya.

SLEMAN MELANGKAH MENUJU JARINGAN KOTA KREATIF UNESCO

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melaui Dinas Pariwisata menyatakan kesiapan setelah resmi lolos seleksi nasional tahap pertama dalam bidang subsektor film, animasi dan video untuk bergabung dalam seleksi nasional pengusulan nominasi tahap II anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) tahun 2027. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Fasilitasi Infrastruktur, Deputi Bidang Pengembangan Strategi Ekonomi Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif. Salah satu tahapan untuk masuk dalam jejaring kota kreatif UNESCO adalah paparan 4 (empat) besar Kab/Kota finalis pada Rabu 2 September 2026 di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Jakarta Selatan. Pada Kesempatan tersebut, Tim Kabupaten dipimpin oleh Sekretaris Daerah, Abu Bakar, S.Sos., M.Si dengan anggota perwakilan akademisi, komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan media yang merupakan bagian ekosistem ekosistem Kota Kreatif UNESCO.

Dalam mendorong ekosistem perfilman lokal naik kelas dan Go Nasional” Kabupaten Sleman resmi membentuk Komisi Film melalui Keputusan Bupati Sleman yang ditetapkan pada 24 Agustus 2026. Dalam keputusan tersebut, pembentukan komisi film juga dilandasi Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Pembentukan ini menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi perfilman daerah sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif. Latar belakang pembentukan Kabupaten Sleman memiliki kekayaan lokasi syuting, warisan budaya, lingkungan alam, hingga komunitas kreatif yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber daya perfilman. “Berdasarkan pertimbangan tersebut, kami menilai perfilman memiliki nilai strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memperkuat daya saing ekonomi Sleman,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Abu Bakar, S. Sos,. M.Si.

Dalam paparan seleksi nasional Tahap II pengusulan nominasi anggota UNESCO Pemerintah Kabupaten Sleman menyampaikan, bahwa langkah strategis yang sudah dilaksanakan adalah memfasilitasi 45 komunitas aktif, memiliki semua unsur yang dibutuhkan sebuah kota film seperti lokasi syuting kelas dunia dari Candi Prambanan, Gunung Merapi, hingga Desa Wisata dan 12 kampus dengan jurusan perfilman. Adapun beberapa lokasi film di Sleman yaitu Pluyon Kalikuning sebagai lokasi shooting film KKN Desa Penari, Candi Boko, untuk film Ada Apa Dengan Cinta. Tidak lepas juga dari dukungan Universitas Amikom, yang sukses dengan film animasi Battle Of Surabaya dan Ajisaka: The King and The Flower of Life yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.Film ini turut menggandeng 15 aktor Hollywood ternama diantaranya adalah Ryan Portter, Lucy Liu, Kevin Durant, dan actor lainya.

Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, S.E., M.Si, menyampaikan, “Lewat UCCN bidang film, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap rumah produksi dunia syuting ada di Sleman. Dengan modal budaya, alam, dan semangat kolaborasi, Sleman optimis dapat menyusul Bristol, Sydney, dan kota-kota film dunia lainnya di jejaring UNESCO. Mari kita bersama-sama menyalakan kamera untuk Sleman. Dari lereng Merapi, kita akan bercerita ke dunia. Sleman siap menjadi Kota Film UNESCO, langkah ini menjadi babak baru bagi Sleman untuk menjadikan perfilman sebagai lokomotif ekonomi kreatif dan diplomasi budaya”.

Menjaga Kualitas Layanan , Dinas Pariwisata Melaksanakan Monitoring Catering

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman melaksanakan kegiatan monitoring perizinan dan kualitas layanan pada usaha catering di wilayah Kabupaten Sleman, Kamis (27/8/2026) di Sari Dewi Catering,  Bu Henny Catering Dan Mugen Catering. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pariwisata dalam melakukan pembinaan serta memastikan pelaku usaha pariwisata khusunya jasa catering memenuhi ketentuan perizinan sekaligus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan.

Monitoring dilakukan dengan meninjau secara langsung aspek administrasi perizinan usaha serta pelaksanaan standar pelayanan yang diterapkan oleh usaha catering. Selain itu, tim juga melakukan komunikasi dan dialog dengan pengelola usaha untuk mengetahui kondisi di lapangan, termasuk kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan usaha.

Melalui kegiatan tersebut, Tim  yang dipimpin oleh Supriyanto, S.IP selaku Ketua Tim Kerja Usaha Pariwisata Bidang Pengembangan SDM dan Usaha Pariwisata, menyampaikan bahwa Dinas Pariwisata Sleman terus mendorong pelaku usaha catering untuk senantiasa memastikan kelengkapan dan kepatuhan terhadap perizinan yang berlaku. Aspek kualitas layanan juga menjadi perhatian, mengingat usaha catering memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan konsumsi berbagai kegiatan masyarakat, pemerintahan, maupun kegiatan pariwisata di Kabupaten Sleman.

“SLEMAN TEMPLE RUN 2026: KOBARKAN SEMANGAT 81 TAHUN INDONESIA MERDEKA, RATUSAN PELARI JELAJAHI CANDI”

Sleman – 23 Agustus 2026 – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pariwisata bekerja sama dengan Trail Runners Yogyakarta kembali menggelar event lari lintas cagar budaya  Sleman Temple Run #11 (STR). Ajang sport tourism kebanggaan Kabupaten Sleman ini digelar pada Minggu 23 Agustus 2026 dengan titik start dan finish di Komplek Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Kegiatan ini memadukan olahraga, wisata, sejarah, dan seni budaya sebagai upaya memperkenalkan potensi kawasan Prambanan kepada masyarakat dan peserta.

Pada penyelenggaraan kali ini, peserta akan melewati sejumlah situs bersejarah dan destinasi wisata, antara lain Candi Banyunibo, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Kraton Ratu Boko, Candi Miri, Arca Gupala, Spot Riyadi, dan Tebing Breksi. Selain menikmati keindahan kawasan Prambanan, peserta juga akan disuguhi berbagai pertunjukan seni tradisional, yaitu Jathilan Kudho Song Pace dari Kalurahan Sambirejo, Tari Sembagi Aruntala dari Kalurahan Wukirharjo, pertunjukan Tari dan Karawitan Sanggar Jaghadhita dari Kalurahan Madurejo, Tari Edan-Edanan dari Kalurahan Gayamharjo, serta Tari Sasmito Manunggal dari Kalurahan Sumberharjo.

Selanjutnya  pelari dengan kategori 30K start pada pukul 02.00 WIB dilanjutkan 15K pada pukul 05.00 WIB dan 7K pada pukul 06.00 WIB. Untuk kategori 30K, fligh off  oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Edy Winarya, S. Sn., M.Si, selanjutnya untuk 15K, fligh off oleh Bapak Makwan, S.TP, MT Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretarias Daerah Sleman  dan 7K, fligh off oleh Bapak Abu Bakar. S. Sos., M.si Sekretaris Daerah Setda Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Pariwisata, Bapak Edy Winarya, S.Sn., M.Si., menyampaikan bahwa melalui event Sleman Temple Run, Pemerintah Kabupaten Sleman ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata, olahraga, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, sebagai kegiatan tahunan yang tahun ini digelar pada bulan Agustus, Sleman Temple Run juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Antusiasme peserta semakin menunjukkan daya tarik event ini, dengan turut hadirnya pelari mancanegara dari Polandia dan Portugal. Kehadiran pelari asing tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan potensi wisata sejarah, budaya, dan alam Sleman kepada masyarakat nasional maupun internasional. Melalui Sleman Temple Run, peserta tidak hanya mengikuti kompetisi olahraga, tetapi juga mendapatkan pengalaman menjelajahi berbagai situs bersejarah dan destinasi wisata di kawasan Prambanan.

Juara pertama kategori tunggal putra 30K diraih oleh Putra Aldio dari bandung memperoleh catatan waktu 02:26:30, kategori tunggal putri di raih oleh Inaratul Corifah dari Magelang dengan catan waktu 03.41.09, juara kategori putra 15K di raih oleh Abdul Majid dari Magelang dengan catatan waktu 01.13.06, juara putri 15 disusul oleh Waliyanti dari Magelang dengan catatan waktu 01.48.48, juara putra 7K di raih oleh Elishar Gamashi dari Magelang dengan catatan waktu 00.30.59, dan juara putri diraih oleh Melda Cantika dari Magelang dengan catatan waktu 00.39.27.Masing-masing juara mendapat medali hadiah dan asuransi jiwa. Hadiah dan trofi diberikan kepada juara putra dan putri pada setiap kategori lomba, yaitu 7K, 15K, dan 30K, dengan total hadiah senilai puluhan juta rupiah.

Mewujudkan SDM Pariwisata Unggul dan Berdaya Saing melalui Sertifikasi Kompetensi Jasa Boga

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata melalui program Pelatihan SDM Usaha Pariwisata yang berlangsung selama tiga hari, 18–20 Agustus 2026 bertempat di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan DPC Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI), STP AMPTA Yogyakarta, dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Gunadarma Utama. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan pengembangan SDM pariwisata dengan dunia pendidikan, asosiasi industri, dan lembaga sertifikasi kompetensi.

Kolaborasi Perkuat Kompetensi SDM Pariwisata

Pelatihan SDM Usaha Pariwisata Kabupaten Sleman

Rangkaian kegiatan dimulai pada hari Selasa (18/8), dibuka dengan sambutan dari Ketua STP AMPTA Yogyakarta, Drs. Prihatno, M.M., dilanjutkan dengan Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Agus Budi Nugraha, S.E., M.Si., dan perwakilan dari DPC PPJI. Acara kemudian dilanjutkan dengan pelatihan in class. Sebanyak 30 peserta dari berbagai pelaku usaha pariwisata mendapatkan materi mengenai perkembangan dan dinamika pariwisata, baik pada tingkat global maupun di Kabupaten Sleman. Materi juga diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada bidang cook atau juru masak profesional, mulai dari persiapan, pengolahan, hingga penyajian makanan sesuai standar, termasuk penerapan kebersihan dan keamanan di area dapur. Pada sesi lainnya, peserta mendapatkan materi mengenai teknik pelayanan serta mengikuti konsultasi pra-uji dan penilaian mandiri sebagai bagian dari persiapan menghadapi sertifikasi kompetensi.

Peserta Dibekali Keahlian Jasa Boga Profesional

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sertifikasi kompetensi yang dilaksanakan pada hari Rabu (19/8). Kegiatan mencakup konsultasi pra-uji, penilaian mandiri, serta asesmen melalui observasi, wawancara, dan praktik. Tahapan ini menjadi upaya untuk memastikan kompetensi peserta sesuai dengan standar kebutuhan dunia kerja pariwisata. Keterlibatan lembaga sertifikasi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan SDM pariwisata tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pengakuan kompetensi yang terukur dan relevan dengan kebutuhan industri. Sertifikasi dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta melalui sejumlah metode, termasuk observasi, wawancara, dan praktik.

Sertifikasi Jadi Pengakuan Kompetensi

Sebagai penguatan pembelajaran berbasis industri, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke H5 Catering Jatibarang, Mijen, Semarang pada Kamis (20/8). Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung tata kelola usaha dan pelayanan di industri. Peserta mengikuti tour kawasan catering, sarasehan, diskusi, serta sesi tanya jawab mengenai pelayanan dan tata kelola catering. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai keamanan pangan sesuai standar HACCP, sehingga pemahaman yang diperoleh selama pelatihan dapat dikaitkan secara langsung dengan praktik di dunia usaha. Kunjungan lapangan tersebut sekaligus memperkuat peran mitra industri dalam memberikan pengalaman pembelajaran berbasis praktik kepada peserta.

Belajar Langsung dari Praktik Industri

Kegiatan selama tiga hari ini menunjukkan komitmen Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dalam memperkuat kualitas SDM pariwisata melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pembekalan pengetahuan, peningkatan keterampilan, sertifikasi kompetensi, hingga pengalaman belajar langsung di industri. Kolaborasi bersama DPC PPJI, STP AMPTA Yogyakarta, dan LSP Gunadarma Utama menjadi bagian penting dalam mendukung proses tersebut. Pemerintah daerah berperan dalam mendorong program pengembangan SDM, sementara perguruan tinggi, asosiasi industri, lembaga sertifikasi, dan pelaku usaha memberikan dukungan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Melalui program pengembangan SDM pariwisata Kabupaten Sleman seperti ini, diharapkan semakin banyak tenaga kerja pariwisata yang memiliki kompetensi, keterampilan praktis, serta kesiapan untuk memenuhi tuntutan industri pariwisata yang terus berkembang.

Dorong Kuliner Lokal Jadi Daya Tarik Wisata, Warga Blendangan Ikuti Pelatihan

Sleman – Pengembangan desa wisata tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Potensi yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat, termasuk kuliner tradisional, dapat menjadi modal penting untuk menghadirkan pengalaman wisata yang khas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.

Semangat tersebut menjadi bagian dari Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Desa Wisata, Pokdarwis, dan Destinasi (CBT) Pengolahan Kuliner Tradisional Pokdarwis Tirta Arum Blendangan, Tegaltirto, Berbah, yang dilaksanakan pada 10–12 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Kabupaten Sleman dalam mendukung pengembangan potensi masyarakat melalui sektor pariwisata. Pada pembukaan kegiatan, Guntur Yoga Purnawan, S.T. dari DPRD Kabupaten Sleman turut hadir memberikan sambutan dan pengarahan kepada peserta, kegiatan berlangsung di Rumah Dukuh Blendangan, Tegaltirto, Berbah. Peserta mendapatkan materi mengenai potensi gastronomi kuliner di wilayah Sleman Timur, khususnya Tegaltirto dan Berbah, sekaligus melihat peluang pengembangan kuliner tradisional agar dapat menjadi bagian dari daya tarik destinasi wisata.

Materi disampaikan oleh Nur Aulia Wijayanti, Project Manager CV. Wijaya Boga Catering, yang membahas gastronomi kuliner Sleman Timur. Sementara itu, Rika Nuryani Suwarno, M.Pd. dari Kampung Emas Krapyak IX Seyegan, memberikan materi mengenai inovasi pengembangan serta kreasi kuliner tradisional di destinasi wisata.

Peserta juga diajak mempraktikkan langsung pengolahan kuliner tradisional. Didampingi Rika Nuryani Suwarno, M.Pd. beserta tim, peserta mengikuti proses praktik pembuatan kuliner selama rangkaian kegiatan di Blendangan.

Praktik tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali potensi kuliner yang ada di lingkungan masyarakat. Kuliner tradisional tidak hanya dipandang sebagai makanan yang dikonsumsi, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memiliki cerita dan identitas lokal.

Pembelajaran dilanjutkan melalui kunjungan lapangan ke Rumah Ketela, Magelang, Jawa Tengah. Peserta mendapatkan pengalaman mengenai pengenalan masakan tradisional lokal, praktik pembuatan masakan, serta melihat secara langsung pengelolaan potensi pangan lokal dalam konteks wisata. Peserta kemudian diajak mengenal sejumlah UMKM yang berkembang di kawasan Borobudur, di antaranya pelaku usaha gula jawa, madu, dan rengginang.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa kekuatan sebuah destinasi tidak hanya berada pada objek wisatanya. Produk masyarakat, kuliner lokal, UMKM, serta aktivitas keseharian warga dapat dirangkai menjadi satu pengalaman perjalanan yang saling menguatkan.

Bagi peserta, proses belajar selama tiga hari ini menjadi kesempatan untuk melihat potensi kuliner dari sudut pandang yang lebih luas. Apa yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat dapat dikembangkan menjadi bagian dari produk wisata, sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk terlibat dan memperoleh manfaat dari aktivitas pariwisata.

Sebab, ketika kuliner lokal mampu bercerita tentang tempat asalnya, maka wisatawan tidak hanya datang untuk mencicipi. Mereka datang untuk merasakan cerita yang tumbuh dari masyarakatnya.