Beranda blog Halaman 4

Sertifikasi Public Area Cleaner, Untuk Perkuat Standar Layanan Pariwisata

Sleman – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman terus berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata melalui penyelenggaraan Pelatihan dan Sertifikasi Public Area Cleaner yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Jogja Tama Tri Cita dan LSP Pariwisata Jana Dharma Indonesia, dengan pelaksanaan di Grand Keisha Yogyakarta dan Blondes Borobudur, Jawa Tengah.

Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari berbagai pelaku usaha pariwisata dan perhotelan di Kabupaten Sleman. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), sekaligus membekali peserta dengan keterampilan teknis dan sikap kerja profesional dalam menjaga kebersihan area publik. Peran Public Area Cleaner dinilai sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan mampu memberikan kesan positif bagi wisatawan.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Erny Maryatun, S.IP., M.T., yang menyampaikan bahwa pengembangan SDM menjadi salah satu faktor utama dalam memperkuat daya saing sektor pariwisata. Selain memiliki keterampilan, tenaga kerja pariwisata juga perlu didukung dengan sertifikasi kompetensi sebagai bentuk pengakuan profesional sesuai kebutuhan industri.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelatihan di dalam kelas pada 23 Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi pada 24 Juni 2026 untuk mengukur kemampuan peserta berdasarkan standar profesi. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, pada hari terakhir peserta mengikuti kegiatan visitasi ke Blondes Borobudur, Jawa Tengah.

Visitasi menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan kawasan wisata, khususnya dalam menjaga kebersihan area publik dan kualitas pelayanan. Melalui sesi diskusi bersama pengelola, peserta memperoleh wawasan mengenai pengelolaan fasilitas umum, strategi menjaga kenyamanan lingkungan, keterlibatan masyarakat dalam operasional destinasi, hingga upaya mempertahankan standar pelayanan bagi wisatawan.

Melalui pelatihan, sertifikasi, dan visitasi ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman berharap peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di tempat kerja masing-masing. Dengan SDM yang kompeten dan tersertifikasi, kualitas layanan pariwisata di Kabupaten Sleman diharapkan terus meningkat sehingga mampu memperkuat daya saing destinasi dan mendukung pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Dinas Pariwisata Apresiasi Pegawai Berprestasi untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan kepada Masyarakat

Senin, 22 Juni 2026 – Dinas Pariwisata memberikan penghargaan kepada pegawai teladan dan berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, kinerja, dan kontribusi yang telah diberikan dalam mendukung pelaksanaan tugas serta pelayanan kepada masyarakat.

Pemberian penghargaan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai, mempertahankan sumber daya manusia yang berkinerja tinggi, memberikan apresiasi atas prestasi yang telah dicapai, serta mendorong terciptanya kompetisi yang sehat di lingkungan Dinas Pariwisata.

Proses penilaian dilakukan secara objektif berdasarkan sejumlah indikator yang telah ditetapkan, meliputi penampilan, kemampuan bekerja sama, sikap dan mutu tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan, kinerja, inovasi dan kreativitas, tidak pernah menerima komplain dari pengguna layanan, serta tingkat kehadiran pegawai.

Penetapan penerima penghargaan dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Nomor 800.1.12.8/26/2026 tentang Penetapan Pegawai Berprestasi Tahun 2026 di Lingkungan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Surat keputusan tersebut menjadi dasar resmi dalam menentukan pegawai yang dinilai memiliki prestasi, dedikasi, dan kinerja terbaik selama periode penilaian.

Berdasarkan hasil penilaian tersebut, ditetapkan dua pegawai yang berhasil meraih penghargaan Pegawai Berprestasi Tahun 2026, yaitu:

  1. Anisa Tri Prastiwi, S.I.P., Analis Sumber Daya Manusia Aparatur Ahli Pertama, sebagai Pegawai Berprestasi Peringkat Pertama.
  2. Trias Kurniawati, S.Si., M.Ec.Dev., Penelaah Teknis Kebijakan, sebagai Pegawai Berprestasi Peringkat Kedua.

Pimpinan Dinas Pariwisata menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para penerima penghargaan. Diharapkan penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh pegawai untuk terus meningkatkan profesionalisme, kompetensi, integritas, serta kualitas kinerja dalam melaksanakan tugas dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Dinas Pariwisata berkomitmen untuk terus membangun budaya kerja yang positif, produktif, dan berorientasi pada pelayanan prima guna mendukung pencapaian tujuan organisasi. Penghargaan Pegawai Berprestasi diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk menumbuhkan semangat kerja, memperkuat budaya apresiasi, serta mendorong peningkatan kinerja aparatur secara berkelanjutan di lingkungan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Pemuda Rewulu Wetan Dikumpulkan, Ini Misi Besar yang Sedang Disiapkan Dispar Sleman

SLEMAN – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Desa Wisata, Pokdarwis, dan Destinasi Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism/CBT) pada 17–18 Juni 2026 di Joglo Donowarih, Padukuhan Rewulu Wetan, Kalurahan Sidokarto, Kapanewon Godean.

Kegiatan yang merupakan aspirasi Pokok Pikiran (Pokir) Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Muh. Zuhdan, ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengembangkan potensi wisata berbasis masyarakat di wilayah Rewulu Wetan.

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh pembekalan mengenai konsep sadar wisata, pelayanan prima, serta pengelolaan destinasi yang berkelanjutan. Generasi muda didorong untuk menjadi motor penggerak pengembangan pariwisata melalui kreativitas, inovasi, dan kolaborasi dengan masyarakat setempat.

 

Narasumber Agus Sugiarto dalam materi Sadar Wisata menyampaikan bahwa keberhasilan suatu destinasi tidak hanya ditentukan oleh daya tarik wisata yang dimiliki, tetapi juga oleh peran masyarakat sebagai tuan rumah.

“Destinasi yang hebat lahir dari masyarakat yang sadar akan potensi daerahnya. Ketika anak-anak muda memiliki kepedulian dan mau terlibat, mereka bukan hanya menjaga destinasi, tetapi juga menciptakan pengalaman yang membuat wisatawan ingin kembali,” ujarnya.

Sementara itu, Eko Haryanto, M.Par., CHE., yang juga akan mendampingi peserta selama tiga bulan ke depan, menekankan pentingnya kualitas pelayanan sebagai faktor utama dalam meningkatkan daya saing destinasi wisata.

“Wisatawan mungkin datang karena penasaran, tetapi mereka akan kembali karena merasa dihargai. Keramahan, pelayanan yang tulus, dan kemampuan memberikan pengalaman yang berkesan merupakan investasi jangka panjang bagi sebuah destinasi,” jelasnya.

Pada hari kedua, peserta mengikuti kunjungan lapangan ke untuk mempelajari secara langsung praktik pengelolaan destinasi wisata. Peserta berkesempatan berdialog dengan pengelola mengenai manajemen destinasi, pelayanan wisata, serta strategi menjaga keberlanjutan usaha pariwisata berbasis masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman berharap lahir generasi muda yang mampu menjadi penggerak utama pengembangan pariwisata di Kapanewon Godean. Dengan memadukan potensi alam, budaya, serta semangat kolaborasi masyarakat, kawasan ini diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata yang berdaya saing, berkarakter, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.


Penulis: Tim Publikasi Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Pengelola Plesiran Ndeso Berguru ke Destinasi di Magetan: Puluhan Ide Dibawa Pulang

Wisata Berbasis Masyarakat Diperkuat, Pengelola Plesiran Ndeso Ikuti Pelatihan dan Studi Orientasi ke Magetan

SLEMAN – Upaya menjadikan wisata berbasis masyarakat sebagai penggerak ekonomi lokal terus diperkuat. Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman Muh. Zuhdan, S.Pd.I. menggelar kegiatan pelatihan dan pendampingan pengelolaan destinasi wisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism/CBT) bagi pengelola Wisata Plesiran Ndeso, Padukuhan Tangkilan, Kalurahan Sidoarum, Kapanewon Godean.

Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Juni 2026 tersebut diawali dengan pelatihan di Joglo Donowarih, Sidokarto, Godean, kemudian dilanjutkan studi orientasi ke Wisata Lembah Srimpi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari pengelola wisata mengikuti rangkaian kegiatan untuk memperkuat kapasitas pengelolaan destinasi, kelembagaan, serta pengembangan paket wisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Muh. Zuhdan, S.Pd.I., menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat hanya mengandalkan keindahan alam atau potensi yang dimiliki suatu wilayah. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan sebuah destinasi.

“Pariwisata yang kuat adalah pariwisata yang mampu menggerakkan masyarakatnya. Ketika warga terlibat sebagai pelaku utama, manfaat ekonomi akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas pengelola wisata harus terus dilakukan agar destinasi tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Zuhdan.

Dalam pelatihan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, peserta mendapatkan materi tentang sadar wisata, penguatan kelembagaan, penggalian potensi lokal, serta penyusunan paket wisata. Materi tersebut menjadi bekal penting bagi pengelola Plesiran Ndeso untuk mengembangkan destinasi yang memiliki karakter kuat dan mampu memberikan pengalaman autentik kepada wisatawan.

Penguatan Kapasitas dan Kelembagaan Destinasi

Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Agus Budi Nugraha, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam membangun destinasi yang dikelola secara profesional oleh masyarakat.

“Desa atau destinasi wisata tidak cukup hanya memiliki potensi. Potensi harus diolah menjadi produk wisata yang menarik, memiliki manajemen yang baik, serta didukung kelembagaan yang kuat. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan ruang belajar sekaligus inspirasi agar pengelola wisata mampu mengembangkan destinasinya sesuai karakter dan potensi lokal yang dimiliki,” ungkap Agus.

Belajar Praktik Baik di Wisata Lembah Srimpi

Salah satu agenda utama kegiatan adalah kunjungan lapangan ke Wisata Lembah Srimpi, Magetan. Destinasi tersebut dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan wisata berbasis masyarakat dengan mengoptimalkan potensi alam dan keterlibatan warga dalam pengelolaannya.

Selama kunjungan, peserta berdialog langsung dengan pengelola, mempelajari strategi pengembangan destinasi, pola pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan atraksi wisata yang mampu menarik kunjungan wisatawan. Bagi pengelola Plesiran Ndeso, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung praktik baik yang dapat diadaptasi di Tangkilan.

Berbagai ide dan inspirasi yang diperoleh diharapkan mampu memperkuat pengembangan destinasi sehingga tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dan penggerak ekonomi lokal.

Mendorong Pariwisata Berkelanjutan di Tangkilan

Melalui sinergi antara DPRD Kabupaten Sleman, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, dan masyarakat, pengembangan wisata berbasis masyarakat di Tangkilan diharapkan mampu menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat dikelola secara kreatif, profesional, dan berkelanjutan.

Dengan semangat belajar dan berinovasi, Plesiran Ndeso diharapkan semakin siap menjadi destinasi yang membanggakan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.


(Penulis: Tim Publikasi Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman) 

Monitoring Usaha Pariwisata: Terdapat Vila Belum Memiliki Perizinan Sesuai Regulasi Terbaru

Dalam rangka meningkatkan kepatuhan pelaku usaha terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepariwisataan, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman melaksanakan kegiatan pembinaan dan monitoring pada salah satu usaha Vila di wilayah Plalangan, Kalurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman pada hari Kamis (11/6).

Kegiatan monitoring dilakukan untuk memastikan bahwa usaha pariwisata beroperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk pemenuhan aspek perizinan dan standar usaha. Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pemeriksaan terhadap dokumen perizinan yang dimiliki oleh pengelola usaha vila.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui bahwa usaha vila tersebut belum memiliki perizinan yang sesuai dengan regulasi yang berlaku. Sehubungan dengan hal tersebut, tim memberikan pembinaan dan penjelasan kepada pengelola usaha mengenai kewajiban pemenuhan perizinan berusaha sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tim juga menyampaikan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pengelola untuk mengurus dan melengkapi perizinan yang dipersyaratkan agar kegiatan usaha dapat berjalan secara legal dan memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Kegiatan pembinaan dan monitoring ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menciptakan iklim usaha pariwisata yang tertib, aman, dan berkualitas. Pendekatan pembinaan terus diutamakan guna mendorong peningkatan kesadaran dan kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi yang berlaku.

Pemerintah daerah berharap seluruh pelaku usaha pariwisata dapat berperan aktif dalam memenuhi kewajiban perizinan dan standar usaha sehingga sektor pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

 

Laporan Kinerja dan Laporan Pelaksanaan Tahun 2024

Laporan Kinerja Tahun 2024 merupakan dokumen yang memuat informasi mengenai capaian kinerja organisasi/unit kerja selama periode tahun anggaran 2024. Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan program dan kegiatan yang telah direncanakan, sekaligus sebagai bahan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan pencapaian sasaran, indikator kinerja, serta target yang telah ditetapkan.

 

 

TINGKATKAN KOMPETENSI SDM PARIWISATA MELALUI PELATIHAN BARISTA

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan sekaligus uji kompetensi skema Barista yang berlangsung sukses dari tanggal 19 hingga 21 Mei 2026. Acara ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektorpariwisata. Pelatihan diikuti oleh utusan dari hotel, restoran dan coffee shop di Kabupaten Sleman, denganfokus utama pada peningkatan kemampuan dasar sebagai barista, meliputi: keterampilan dasar, pengenalan perlengkapan dan peralatan, penggunaan dan prosedur kerja, keterampilan ekstraksi kopi, operasioanal cafe dan perawatan peralatan barista.

Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Jana Dharma Indonesia. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Dinas Pariwisata, Bapak Agus Budi Nugraha, SE, M.Si. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa perkembangan usaha pariwisata di Sleman perlu didukung oleh SDM yang kompeten. Diharapkan dengan pelatihan ini dapat meningkatkan keterampilan pengetahuan, wawasan, keterampilan dan sikap kerja SDM pariwisata , khususnya Barista dalam memberikan layanan kepada wisatawan.

Rangkaian kegiatan ini diawali dengan pelatihan di dalam kelas pada tanggal 19 Mei, dilanjutkan dengan uji kompetensi pada tanggal 20 Mei untuk memastikan peserta memenuhi standar profesional yang ditetapkan. Puncaknya, pada tanggal 21 Mei para peserta melakukan kunjungan studi (visitasi) ke Kampoeng Kopi Banaran, Jawa Tengah. Kunjungan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikan materi di kelas dan mendapatkan bimbingan langsung dari Barista pengelolaan kopi sampai dengan penyajian demi terbentuknya layanan Barista yang unggul dan berdaya saing di Sleman.

ANGKAT KULINER TRADISIONAL JADI DAYA TARIK WISATA, DISPAR SLEMAN GELAR PELATIHAN UNTUK DESA WISATA KAMPUNG SATWA

Sleman — Aroma rempah dan semangat pelestarian budaya lokal mewarnai kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Desa Wisata, Pokdarwis, Destinasi (CBT): Pengolahan Kuliner Tradisional Desa Wisata Kampung Satwa yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman pada 19–21 Mei 2026 di Kedung Banteng, Sumberagung, Moyudan.

Kegiatan yang merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat ini, merupakan Program Pokok Pikiran (POKIR) DPRD Kabupaten Sleman dari Muh. Zuhdan, Ketua Komisi B DPRD Sleman.

Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Agus Budi Nugraha, menyampaikan bahwa pengembangan kuliner tradisional memiliki potensi besar dalam mendukung kemajuan desa wisata di Kabupaten Sleman.

“Kuliner bukan hanya soal makanan, tetapi juga cerita, budaya, dan pengalaman wisata.”

Melalui pelatihan ini kami berharap desa wisata mampu menghadirkan produk kuliner yang khas, kreatif, dan memiliki nilai jual bagi wisatawan.

— Agus Budi Nugraha

Peserta sebanyak 30 orang yang terdiri dari pengelola desa wisata, Pokdarwis, dan Penggerak UMKM Desa Wisata, mengikuti pelatihan dengan antusias. Tidak hanya menerima teori, peserta juga diajak memahami bagaimana kuliner tradisional dapat dikembangkan menjadi produk wisata yang bernilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai gastronomi kuliner tradisional Sleman Barat, inovasi dan modifikasi makanan tradisional, hingga teknik pengolahan dan penggunaan bumbu dasar kuliner tradisional. Materi disampaikan langsung oleh praktisi dan akademisi dari UNY, yakni Minta Harsana, Febria Cara Adisty, dan Nur Aini Suci Oktafiana.

Suasana pelatihan semakin menarik pada hari kedua, saat peserta memasuki sesi praktik pengolahan kuliner tradisional. Berbagai menu khas diolah bersama mulai dari appetizer, main course, hingga dessert berbasis pangan lokal yang dikemas lebih modern namun tetap mempertahankan cita rasa tradisional.

Tidak berhenti di ruang pelatihan, pada hari ketiga peserta juga melaksanakan kunjungan studi orientasi ke Koetatoea, Semarang, Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, peserta belajar langsung proses pengolahan kuliner khas Semarang yaitu lumpia, mulai dari teknik pembuatan, pengemasan, hingga strategi pengembangan produk sebagai daya tarik wisata kuliner.

Melalui kegiatan ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman terus mendorong masyarakat untuk menggali potensi lokal sebagai kekuatan utama pariwisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT), sehingga desa wisata tidak hanya berkembang sebagai destinasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

GENCARKAN  PROMOSI PARIWISATA, DINAS PARIWISATA SLEMAN ADAKAN TABLE TOP DAN TRAVEL DIALOG KE DENPASAR

Dalam rangka memperkenalkan  dan mempromosikan destinasi pariwisata yang ada di Kabupaten Sleman,  Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman terus berupaya dengan berbagai cara. Pada  tanggal 11 sampai dengan 15 Mei 2026, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama 22 seller yang terdiri dari destinasi, hotel, restoran, dan toko oleh-oleh melakukan table top dan travel dialog di Kota Denpasar, Bali.

Kegiatan  dipusatkan di Geneve Room, City of Aventus Hotel, Denpasar. Tidak kurang dari 130 buyer yang terdiri dari perwakilan travel agent yang tergabung dalam ASITA, ASTINDO dan ASPPI, dan kepala sekolah SMP, SMA dan SMK se- Propinsi Bali. Dalam sambutan pembukaan ,pimpinan  rombongan Kabupaten Sleman,  Kus Endarto, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa maksud dan tujuan kegiatan  table top dan travel, dialog ini  adalah untuk menjalin silaturahim, komunikasi, sinergi dan kolaborasi antara pelaku pariwisata di Kabupaten Sleman, khususnya dan DIY pada umumnya dengan perwakilan travel agent yang ada di Propinsi Baii. Selain tentunya mengenalkan Kabupaten Sleman dengan semua potensi yang dimilikinya, baik potensi pariwisata, budaya, dan pendidikan tinggi yang ada.

Pemerintah Propinsi Bali, yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata menyampaikan bahwa Pemerintah Propinsi Bali menyambut baik kegiatan table top dan travel dialog yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kedua daerah memiliki banyak kesamaan, seperti budaya, sejarah serta latar belakang yang menjadi dasar pengembangan pariwisata dan destinasi yang dapat  memperkaya wawasan peserta didik. Selain itu, kreatifitas masyarakat di Kabupaten Sleman dalam mengembangkan pariwisata, melalui community based tourism bisa menjadi inspirasi bagi peserta didik dari Propinsi Bali.

Pemerintah Kota Denpasar yang diwakili oleh Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Denpasar, Ida Ayu Putu Mirah Ulantari, S.Sos dan Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Bali, Ida Ayu Dewi Citrawati, S.E., M.Si menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan ini. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi pertukaran informasi, saling memahami, dan dapat terbentuk kolaborasi, komunikasi dan sinergi berkelanjutan antara Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Sleman. Selain mendukung  dan meningkatkan rasa nasionalisme, berwisata juga menambah wawasan dan menghargai berbagai hal yang berbeda.

Respon positif didapatkan  oleh Dinas Pariwisata Sleman beserta  peserta table top dan travel dialog,  tercatat setidaknya terjadi kesepakatan terhadap 100 paket wisata yang ditawarkan oleh seller . Beberapa diantaranya akan mulai berkunjung pada periode libur sekolah mendatang (Juni dan Juli 2026). Selain itu, informasi terkait wisata edukasi di Kabupaten Sleman, menarik perhatian dari beberapa perguruan tinggi di Propinsi Bali untuk mengunjungi beberapa perguruan tinggi di Kabupaten Sleman pada periode September dan Oktober 2026.

 

 

DATA AKURAT JADI KUNCI, DISPAR SLEMAN GELAR FGD PENDATAAN EKRAF

Sleman – Dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif 17 subsektor Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman (Dispar Sleman) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pendataan Laporan Pendahuluan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Sleman, Selasa (12/05/2026). Kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Dispar Sleman tersebut, dihadiri oleh perwakilan pelaku ekonomi kreatif dari komunitas game developer, gameLan, komunitas asosiasi desain grafis Indonesia , ketua komunitas animasi club, akademisi, 17 kapanewon, dan stakeholder terkait.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Edy Winarya, S.Sn., M.Si. dalam sambutannya menyampaikan harapan bahwa kegiatan ini dapat menjadi dasar kuat bagi penyusunan laporan akhir yang akan menjadi acuan kebijakan pembangunan ekonomi kreatif kedepan.

“Setelah FGD pendataan ini selesai, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi kembali dalam mengidentifikasi permasalahan secara langsung di lapangan, agar dapat tetap terjadi kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan komunitas pelaku (helix model) sehingga menjadi dampak yang positif. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem yang terarah dan berdaya saing tinggi”, ujarnya.

FGD ini merupakan penentukan langkah awal dalam menyusun dokumen laporan pendahuluan pendataan pelaku industri kreatif. Pendataan tahun anggaran 2026 ini adalah pendataan yang ke tiga, setelah sebelumnya dilakukan pada tahun anggaran 2017 dan 2020. Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan kembali potensi industri kreatif serta validasi data pelaku ekraf yang sebelumnya tersedia berdasarkan data dinamis di wilayah Kabupaten Sleman. Nantinya, data dari berbagai subsektor akan dimasukan dalam Aplikasi Satu Data Ekraf (Ekonomi Kreatif) guna mempermudah akses informasi, pemetaan potensi, dan pengambilan keputusan terkait Ekraf. Selain itu, FGD ini juga berperan dalam menginventarisasi kebutuhan para pelaku industri kreatif di Kabupaten Sleman.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, SP., M.Ec.Dev., MIDS., menyampaikan bahwa data yang kuat melahirkan ekosistem yang sehat. Dengan adanya satu data ekraf, dapat mempermudah untuk melakukan pemetaan kegiatan pelatihan, sinergi terhadap pelaku indutri kreatif.

“Pendataan ini krusial. Kita ingin kebijakan yang dilahirkan nanti tepat sasaran. Melalui FGD ini, kita memvalidasi laporan pendahuluan agar data yang dimiliki mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya dalam pengembangan ekosistem,” ujarnya.

Dr. Dumairy M.A selaku narasumber dari peneliti pusat studi ekonomi kerakyatan UGM menjelaskan bahwa dalam pendataan ekonomi kreatif yang perlu diperhatikan adalah data utama dan data pelengkap. Salah satu data utama adalah terkait dengan produk, bagaimana miningkatkan nilai tambah suatu produk yang memmiliki harga jual yang tinggi. Sedangkan data pelengkap memberikan identitas yang jelas meliputi metode pendataan dan validasi data ekonomi kreatif