Candi Ijo “Candi Tertinggi di Sleman”

11

Sumber foto: https://yoursay.suara.com/news/2020/07/20/154934/candi-ijo-candi-tertinggi-di-jogja-cocok-untuk-menikmati-senja

Candi Ijo secara administratif berada di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak astronomis candi ini adalah 07° 47’ 01,9” LS, 110° 30’ 43,1” BT dan berada pada 357,402 m dari permukaan air laut.

Candi Ijo merupakan kompleks percandian yang berada di atas perbukitan. Situs candi ini berupa lahan berteras-teras yang dikelilingi tebing. Lahan yang menjadi dasar atau keletakan bangunan terdiri dari atas tanah dan cadas. Tanah tersebut sangat labil, bila musim penghujan sangat becek dan bila musim kemarau tanahnya menjadi bercelah-celah atau pecah.

Kompleks Candi Ijo terdiri atas 17 struktur bangunan pada 11 teras dengan teras paling atas merupakan kedudukan candi induk. Candi induk mempunyai ukuran 1.843 × 1.845 cm, dan tinggi 1.600 cm. Di dalam candi induk terdapat sebuah bilik dengan Lingga=Yoni di dalamnya yang melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati. Pada dinding luarnya terdapat relung-relung untuk menempatkan arca Agastya, Ganesa, dan Durga.

Di depan candi induk terdapat tiga buah candi perwara. Ketiga candi perwara ini menghadap ke timur. Candi Perwara selatan mempunyai ukuran denah 519 × 517 cm, dengan tinggi 662 cm. Di dalam bilik candi perwara selatan tidak ditemukan apa-apa. Candi perwara tengah mempunyai ukuran denah 630 × 515 cm, tinggi 650 cm. Di dalam bilik candi perwara tengah ditemukan nandi dan meja batu (padmasana). Candi perwara utara mempunyai ukuran denah 511 × 511 cm, tinggi 630 cm. Pada bilik candi ini tidak ditemukan apa-apa.

Keempat candi tersebut berada pada satu halaman. Di halaman ini juga ditemukan delapan buah Lingga patok yang berada pada masing-masing arah mata angin. Struktur bangunan lain yang berada  di kompleks percandian Ijo, antara lain terdapat pada teras kesembilan, berupa sisa-sisa batur bangunan yang menghadap ke timur. Di teras kedelapan terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan serta ditemukan dua buah prasasti batu.

Pada salah satu prasasti yang ditemukan di atas dinding pintu masuk candi (candi F) terdapat tulisan Guywan, oleh Soekarto dibaca Bhuyutan yang berarti pertapaan. Prasasti batu yang lain berisi 16 buah Om saruwawinasa, saruwawinasa. Prasasti-prasasti tersebut tidak berangka tahun, tetapi dari sudut pandang paleografis, diperkirakan dari abad VIII-IX M.

Pada teras kelima terdapat satu buah candi dan dua buah batur, sedangkan pada teras keempat dan teras pertama, masing-masing terdapat satu buah candi. Pada teras kedua, ketiga, keenam, ketujuh, dan kesepuluh tidak ditemukan satu pun bangunan.

Berdasarkan temuan arca-arca di Candi Ijo, dapat diketahui bahwa candi ini merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Agama ini berkembang di Indonesia pada abad IX M. Dari data epigrafi, Candi Ijo diperkirakan dibangun antara tahun 850-900 M. Dengan sendirinya Candi Ijo mempunyai hubungan dengan raja-raja yang berkuasa pada tahun tersebut. Berdasarkan pada perkiraan ini, maka raja yang berkuasa antara tahun 850-900 M adalah Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi (prasasti dari Raja Belitung).

Candi Ijo merupakan bangunan pemujaan peninggalan dari masa klasik Jawa Tengah atau zaman Hindu-Buddha. Candi ini pertama kali ditemukan oleh H.E. Dorrepaal pada tahun 1886. Setelah H.E. Dorrepaa, orang asing berikutnya yang datang adalah C,A. Rosemeir yang menemukan tiga buah arca batu serta Lingga-Yoni di bilik candi induk. Ketiga arca batu tersebut adalah Ganesha, Siwa, dan sebuah arca tanpa kepala bertangan empat yang satu di antaranya membawa cakra.

Tokoh berikutnya adalah H.L. Heidjie Melville yang telah berhasil membuat tata letak bangunan Candi Ijo. pada penggalian yang dilakukan di sumuran candi induk, ditemukan lembaran emas bertulis, cincin emas, batu merjan, dan sejenis biji-bijian. Setelah dibaca oleh Y.G. de Casaris, tulisan dalam lembaran emas tersebut terbaca “Pandu Rangga Bhasmaja”.

Penelitian berikutnya dilakukan oleh Dinas Purbakala mulai tahun 1958 sampai dengan berhasilnya pemugaran candi induk pada tahun 1997. Dari tahun 1998 penelitian dialihkan pada tiga buah candi perwara yang juga sudah berhasil dipugar pada tahun 2004. Dari tahun 2005 sampai 2009, pemugaran dilakukan pada pagar teras XI yang mengitari candi induk dan ketiga candi induk dan ketiga candi perwara. Pada tahun 2011, dipugar Candi K dan Batur L, serta talud sisi barat dan selatan teras XI. Pada tahun 2015, dilakukan pemugaran terhadap Candi F, candi yang bahan penyusunnya terbuat dari batu putih. Sampai sekarang, penelitian di kompleks Candi Ijo masih terus dilangsungkan.

Candi Ijo is administratively located in Groyokan Hamlet, Sambirejo Village, Prambanan District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. Astronomically, the temple is located at 07° 47′ 01.9″ S, 110° 30′ 43.1″ E, at an elevation of 357.402 meters above sea level.

Candi Ijo is a temple complex situated on a hill. The temple site consists of a terraced area surrounded by cliffs. The land on which the structures stand consists of soil and exposed bedrock. The soil is highly unstable; during the rainy season, it becomes very muddy, while during the dry season, it develops cracks and fissures.

The Candi Ijo complex consists of 17 architectural structures distributed across 11 terraces, with the uppermost terrace serving as the location of the main temple. The main temple measures 1,843 × 1,845 cm and is 1,600 cm high. Inside the main temple is a chamber containing a Lingga-Yoni, symbolizing the union of Lord Shiva and Goddess Parvati. The exterior walls contain niches intended to house statues of Agastya, Ganesha, and Durga.

In front of the main temple are three subsidiary temples. All three subsidiary temples face east. The southern subsidiary temple measures 519 × 517 cm and is 662 cm high. Nothing was found inside its chamber. The central subsidiary temple measures 630 × 515 cm and is 650 cm high. Inside its chamber were a Nandi statue and a stone table (padmasana). The northern subsidiary temple measures 511 × 511 cm and is 630 cm high. Nothing was found inside its chamber.

The four temples are situated within a single courtyard. Eight marker Linggas were also found in this courtyard, each positioned according to the cardinal directions. Other structures within the Candi Ijo complex include the remains of a building base on the ninth terrace, facing east. The eighth terrace contains three temples and four building bases, as well as two stone inscriptions.

One of the inscriptions, found above the entrance wall of the temple known as Candi F, bears the word Guywan, which Soekarto read as Bhuyutan, meaning a place of ascetic retreat or hermitage. Another stone inscription contains sixteen occurrences of Om saruwawinasa, saruwawinasa. These inscriptions are undated; however, based on paleographic analysis, they are estimated to date from the eighth to ninth centuries CE.

The fifth terrace contains one temple and two building bases, while the fourth and first terraces each contain one temple. No structures have been found on the second, third, sixth, seventh, and tenth terraces.

Based on the statues discovered at Candi Ijo, it can be established that the temple has a Hindu religious background. Hinduism developed in Indonesia during the ninth century CE. Based on epigraphic evidence, Candi Ijo is estimated to have been constructed between 850 and 900 CE. Consequently, the temple was associated with the kings who ruled during this period. Based on this estimation, the rulers of the period between 850 and 900 CE were Rakai Pikatan and Rakai Kayuwangi, as indicated by inscriptions associated with King Balitung.

Candi Ijo is a place of worship dating from the Central Javanese Classical period, or the Hindu-Buddhist era. The temple was first discovered by H.E. Dorrepaal in 1886. Following H.E. Dorrepaal, the next foreign researcher to visit the site was C.A. Rosemeir, who discovered three stone statues and a Lingga-Yoni inside the chamber of the main temple. The three stone statues were identified as Ganesha, Shiva, and a headless four-armed figure, one of whose hands holds a chakra.

The next researcher was H.L. Heidjie Melville, who successfully produced a site plan of the Candi Ijo complex. Excavations conducted in the sumuran (foundation shaft) of the main temple uncovered inscribed gold sheets, a gold ring, coral beads, and various types of seeds. After being deciphered by Y.G. de Casaris, the inscription on the gold sheets was read as “Pandu Rangga Bhasmaja”.

Subsequent research was conducted by the Archaeological Service beginning in 1958 and continued until the restoration of the main temple was successfully completed in 1997. Beginning in 1998, research shifted to the three subsidiary temples, which were successfully restored in 2004. From 2005 to 2009, restoration work was carried out on the enclosure wall of Terrace XI surrounding the main temple and the three subsidiary temples. In 2011, Candi K and Batur L were restored, along with the western and southern retaining walls of Terrace XI. In 2015, restoration was undertaken on Candi F, a temple whose construction material consists of white stone. Research and archaeological work at the Candi Ijo complex are still ongoing to this day.

Bagikan Artikel
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted